Gereja Bethel Indonesia

Wisuda XXV STTBI - Orasi Ilmiah Pdt. Dwidjo Saputro

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 1
JelekBagus 
Indeks Artikel
Wisuda XXV STTBI
Orasi Ilmiah Pdt. Dwidjo Saputro
Sambutan Om Sur & Pdt Japalin Marbun
Sambutan Dirjen Bimas Kristen
Kesan Pdt Jorry Tasik dan tante Oly
Seluruh halaman

 

Para WisudawanKetua II BPH GBI Pdt. Dwidjo Saputro, MD, PhD menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Teologi yang Memberdayakan”. Mengawali paparannya, ia membahas tentang manusia adalah makhluk biologis dan sosial, yaitu memiliki intelektualitas dan kapasitas moral untuk mengenal dan bertindak sesuai dengan apa yang baik dan jahat.


Kejatuhan manusia kedalam dosa, katanya menjadikan manusia hidup dalam situasi yang rusak dan tidak ada lagi ketaatan. Dasar spiritualitas Kristen adalah upaya Allah untuk menyelamatkan manusia. Hal itu bertujuan untuk mewujudkan pemulihan segala potensi dan talenta Allah yang telah diberikan kepada manusia.


Tentang pemahaman theologi, Pdt. Dwidjo mengutip pandangan Agustinus yaitu theologi adalah diskusi rasional tentang ke Tuhanan. Charles Hodge berpandangan, theologi adalah keilmuan tentang fakta-fakta pewahyuan dari Allah. “Theologi adalah pengetahuan yang sistematis tentang Allah dalam hubungannya dengan alam semesta.


Theologi adalah buah dari gereja yang merefleksikan kebenaran yang diwahyukan dalam Firman Tuhan”, merupakan pandangan Louis Berkhof. Sementara itu, Ketua II BPH ini memiliki pandangan bahwa theologi adalah bukti iman-pengharapan-kasih dari kehidupan seseorang yang diuraikan secara sistematis sehingga dipahami oleh banyak orang. Maksud dan tujuan dari theologi adalah agar lebih banyak orang mengenal dan mengalami perjumpaan dengan Allahdi dalam Tuhan Yesus Kristus.


Ciri khas iman Kristen, ia simpulkan sebagai iman yang memiliki isi yang berbeda dengan iman-iman lainnya, sembari mengutip nats 1 Korintus 13:1-3. Isi iman Kristen menjadi satu dengan struktur jiwa manusia untuk menghasilkan nilai-nilai kekekalan dalam hidupnya.Selanjutnya, Pdt. Dwidjo memaparkan tentang iman Kristen, spiritualitas, dan transformasi kehidupan.

 
“Iman Kristen yang sejati adalah manifestasi dari perjumpaan manusia dengan Allah di dalam Yesus Kristus, yang selanjutnya akan menjadi titik tolak seseorang untuk menjalani proses kehidupan yang sesuai dengan kehendak dan rancangan Allah yang kekal.
 


Mengutip definisi tentang spiritual dari Merriam-Webster Dictionary, ia menjabarkan hal itu bermakna :pertama, berhubungan dengan, terdiri dari, atau berkenaan dengan roh; memenuhi kebutuhan non fisik. Kedua, berrelasi atau bersatu dengan roh. Ketiga, berelasi dengan yang supernatural. Dari beberapa definisi itu, Pdt. Dwidjo menarik kesimpulan bahwa spiritual adalah hal yang berkaitan dengan supernatural atau roh (metafisik).


“Kehidupan spiritual pada hakekatnya dimulai dengan perjumpaan sejati seseorang dengan yang ilahi. Hal itu akan menghasilkan transformasi dalam kehidupan dan transformasi diri menjadi hasil akhir dari suatu spiritualitas.Para Dosen dan Rektor ITKI Ketika seseorang berjumpa dengan Tuhan,ia mengalami beberapa hal : Pertama, ia mengalami sentakan krisis sebagai akibat dari sentakan ide yang berada diluar pola pikir dari pengalaman yang telah ada sebelumnya. Kedua, ia mengalami disequilibrium (goncangan atau ketidak-seimbangan).

 

Hal ini akan menghasilkan suatu pergumulan dalam diri seseorang. Ide yang baru adalah suatu pewahyuan, ide yang Alkitabiah, sesuatu yang Tuhan inginkan untuk diketahui atau dikerjakan. Ketiga, munculnya suatu persepsi baru dalam melihat realitas yang sesungguhnya, yakni relaitas seperti yang dilihat Tuhan. Suatu perubahan baru terjadi jika seseorang mengalami perjumpaan, kesadaran dan dinamika dalam perjumpaan tersebut, membuuat hubungan dengan Tuhan menjadi sesuatu yang nyata sehingga spiritualitas seseorang menjadi nyata.


Menutup orasi ilmiahnya, Pdt. Dwidjo menyimpulkan, theologi Kristen adalah suatu ilmu untuk memperoleh pemahaman secara sistematis tentang bagaimana Rencana Agung Allah digenapi melalui Tuhan Yesus Kristus, yang menyatakan Kasih Allah yang sejati untuk memulihkan manusia yang berdosa.


Iman kepada jalan keselamatan yang disediakan Allah yaitu Yesus Kristus adalah titik awal dari segala perbuatan baik yang diperkenan oleh Allah, yaitu suatu perbuatan baik yang memiliki nilai-nilai kekekalan. Perbuatan baik manusiawi hanya memuaskan perasaan manusia untuk sementara waktu, tetapi tidak memiliki dampak untuk mengubah kehidupan dan tidak memiliki nilai-nilai kekekalan.


Pemahaman teologi Kristen akan memberdayakan setiap orang untuk hidup dalam iman Kristen yang sejati yang menghasilkan suatu perjumpaan dengan Allah. Hal itu memberikan suatu pengalaman spiritual yang autentik, sehingga memberdayakan individu untuk menghasilkan hidup yang berkualitas yaitu menang atas dosa, lebih mengasihi Tuhan dan sesama, sehingga pribadinya menjadi utuh, potensi dalam dirinya berlipatganda dan kehidupannya memberikan pengaruh konstruktif bagi kehidupan dirinya maupun sesama.



Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh