Gereja Bethel Indonesia

Teruskan Perjuangan Om Timotius !

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

E56Pemakaman-03Mazmur 90:10 “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” merupakan nats yang dikutip Pdt.Sutadi Rusli Ketua BPD Jawa Barat, ketika menyampaikan kotbah ibadah pelepasan jenazah Pdt. Timotius Jonathan di GBI Jl. Terate No. 8 Bandung (Selasa, 13/13).

 

Ayat tersebut menurut Pdt. Sutadi berbicara tentang kualitas hidup manusia yang berjalan bersama Tuhan. Kualitas tersebut tidak bisa diukur dengan durasi waktu panjang atau pendek usia seseorang. Melainkan, seberapa lama dan intimnya seseorang berjalan bersama dengan-Nya.

 

Ia menjabarkan, Om Timotius memenuhi kriteria tersebut. Bahkan, ia tetap semangat dalam pelayanan sampai akhir hayatnya. “Tuhan Yesus akan menempatkan Pdt. Timotius Jonathan di tempat yang berharga. Sebab ia adalah seorang pengukir sejarah (an history maker),” ujarnya.Kalimat “kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan”, diartikan Pdt. Sutadi sebagai sesuatu yang berbeda dengan makna dunia ini. Manusia biasa menyandarkan kebanggaan pada gelar dan keberhasilan. Sebaliknya, orang percaya merasakan kebanggaan saat mengalami kesukaran dan penderitaan. “Saat mengalaminya kita bisa melihat kuasa Allah menyatu dalam hidup kita, serta ada mujizat yang terjadi,” katanya.


E56Pemakaman-02Ketua BPD Jawa Barat ini, sekaligus memberikan apresiasi kepada Om Timotius atas kesetiaannya dalam pelayanan yang penuh dengan tantangan selama 58 tahun-an. Ia optimis bahwa Om Timotius akan menerima sebuah mahkota kehidupan sebab ia telah mengakhiri pelayanannya dengan baik.Ia menambahkan, nats diatas menyiratkan makna bahwa kehidupan di dunia ini singkat.


Dengan nada mengingatkan, ia berkata bahwa hari-hari ini adalah hari yang jahat (Efesus 5:16 “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat”). Setiap manusia kelak dipanggil menghadap Tuhan. Pdt. Timotius dipanggil pulang oleh Tuhan karena rumahnya sudah jadi.


Mengakhiri kotbahnya, Pdt. Sutadi berpesan agar semua jemaat mempersiapkan diri untuk meyambut kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Tubuh orang percaya akan diubah menjadi tubuh kemuliaan. I Tesalonika 4:16-17 “ Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan”.Usai Firman Tuhan, pengerja setempat perlahan-lahan mengangkat peti jenazah Om Timotius keluar dari gereja untuk dibawa masuk ke ambulans. Selanjutnya, para jemaat dan hamba Tuhan, tamu-tamu memasuki mobil-mobil untuk menuju ke TPU Kristen Pandu, Bandung.

 

E56Pemakaman-01Pdt. Pudjo Setoto Abednego melayani Firman Tuhan di ibadah pemakaman dengan mengutip nats I Samuel 25:1” Dan matilah Samuel; seluruh orang Israel berkumpul meratapi dia dan menguburkan dia di rumahnya di Rama. Dan Daud berkemas, lalu pergi ke padang gurun Paran”.


Ketua BPH GBI ini menjelaskan bahwa kematian Samuel sebagai seorang hamba Tuhan yang besar kala itu. Ia jujur sehingga semua rakyat Israel menghormatinya. Samuel dikenal sebagai seorang pengabdi pelayanan dari kaum Lewi. Ia bahkan mempersiapkan bahan-bahan bagi pembangunan Bait Allah. Selain itu, Samuel mendirikan sekolah bagi hamba-hamba Allah dan mereka kelak menjadi hamba Tuhan yang luar biasa.


“Dua orang raja Israel yakni Saul dan Daud bisa menjadi raja setelah diurapi Samuel,” katanya. Pdt. Pudjo menambahkan bahwa Samuel memiliki pengaruh yang luar biasa dan disebut sebagai seorang “Pahlawan Iman” (Ibrani 11:32-33 “Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa”).

 

Dalam pandangannya, Pdt. Pudjo menilai Om Timotius adalah seorang hamba Tuhan besar dan kehidupannya patut diteladani. Berkat jasa Om Timotius dan Om Ho, saat ini GBI sudah mencapai luar negeri, bukan hanya di dalam negeri saja. Keluarga besar GBI telah kehilangan salah satu pejuang pelayanan yang luar biasa. Bahkan, perjuangan Om Timoutius telah memberikan warna dan semangat pelayanan kepada para pejabat GBI sampai saat ini.“Tetaplah ingat kepada perjuangan beliau menjelang kelahiran GBI di Sukabumi pada tahuin 1970. Om Timotius membidani kelahiran GBI dan menjabat sebagai Ketua BPH Pertama. Walau beliau sudah meninggalkan kita, namun karyanya tetap mewarnai GBI. Kegiatan pelayanan beliau sudah berakhir namun, semangat pelayanannya masih terasa menjadi sebuah aroma yang harum. Jasad (badani) Om Timotius telah mati namun semangat beliau tetap hidup,” katanya.

 

E56Pemakaman-04Seolah membandingkan dua pribadi, Pdt. Pudjo mengambil contoh mantan Presiden Uganda di Afrika, yaitu Idi Amin salah satu diktaktor yang kala itu terkenal dengan kebengisannya, Saat ia meninggal dunia, rakyat dan pejabat negara Uganda malahan mengucapkan kalimat-kalimat yang bernada umpatan (kecaman) kepada Idi Amin.Tentang istilah (predikat) “hamba Tuhan”, Pdt. Pudjo mengkritisi penggunaan kata tersebut. Ia berpandangan bahwa seorang yang biasa disebut dengan istilah itu oleh manusia, belum tentu Tuhan menyebutnya demikian.


Ketua BPH GBI ini memberikan contoh tentang penyebutan predikat hamba Tuhan, sesudah orang tersebut meninggal dunia seperti misalnya, Musa (Yosua 1:1 dan Yosua 24:29). Meskipun demikian, Pdt. Pudjo yakin bahwa Om Timotius layak diberikan predikat sebagai seorang hamba Tuhan oleh Tuhan Yesus sendiri. “Om Timotius dicatat namanya oleh Tuhan dengan tinta emas dalam buku Kerajaan Surga. Teruskan perjuangan beliau,” katanya.

 

Usai Firman Tuhan, Pdt. Pudjo melemparkan segenggam tanah kearah peti jenazah yang telah diletakkan ke liang lahat oleh petugas pemakaman. Acara dilanjutkan dengan tabur bunga oleh keluarga, hamba Tuhan dan jemaat. Tampak hadir pada ibadah pelepasan dan ibadah pemakaman yaitu Pdt. Dwidjo Saputro, Pdt. Noenik (Ketua WBI BPH GBI), Pdt. Yonathan Kusuma (Wakil ketua III BPD Jawa Barat), Pdm. Gunawan Sumali dan istri (Bendahara BPD Jawa Barat), Pdt. M. Lumban Raja (Gembala GBI Pamanukan), Pdt. Y.P. Enoch (Gembala GBI Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur) dan Pdt. Lukas Sagota, STh. dari Bekasi, Pdm. Haogo Zondrakh, SH (Ketua Bidang Hukum dan Advokasi BPD GBI Jawa Barat), rekan-rekan hamba Tuhan, pengerja gereja dan jemaat. Selain itu puluhan karangan bunga antara lain dari BPD DKI Jakarta, BPD Jawa Tengah-DIY, BPD Banten dan lain-lain. [pram]

 

 

 

 

 

 

 

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh