SMD III BPD DKI Jakarta - Makna Kerajaan Allah
Ditulis oleh prambudi Jumat, 29 Juli 2011 11:17
| Indeks Artikel |
|---|
| SMD III BPD DKI Jakarta |
| Makna Kerajaan Allah |
| Sambutan Tertulis ketum BPH GBI |
| Sesi Seminar |
| Seluruh halaman |
Ia menjelaskan bahwa Kerajaan Sorga selalu ditafsirkan orang berkaitan dengan masa yang akan datang. Padahal, hal itu berkaitang dengan realitas suasana kehidupan dalam dunia sekarang ini. “Jika gereja terfokus kepada masa yang akan datang, maka gereja berpandangan tidak perlu menyusun suatu program kerja. Sesungguhnya, saat ini di dunia adalah Kerajaan Surga juga. Di dunia ini, Kerajaan Surga mempunyai makna dalam pelayanan, keluarga ada damai sejahtera “, ujarnya.
Dari paparannya diatas, Pdt. Pudjo melontarkan 3 pertanyaan kepada para peserta SMD III ini yaitu kapan memiliki Kerajaan Allah, apa syarat dan apa manifestasi Kerajaan Allah ?. Kerajaan Allah, menurutnya berkaitan dengan tampilnya Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:29). Yesus sebagai “anak domba” yang disediakan Allah. Sejak masa itu, orang membuka hati untuk percaya kepada Yesus sebagai juru selamat. Ia sekaligus menjadi seorang agen-agen Kerajaan Allah, seperti tertulis pada nats Matius 12:28 “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu”.
Dalam penerapan kehidupan sehari-hari, Pdt. Pudjo dengan nada bertanya mengatakan, sudahkah wajah kita terpancar Kerajaan Allah (shaloom). Ia selanjutnya makna shalom tersebut yakni pertama, hubungan yang harmonis antara Tuhan dengan manusia dan hubungan antara manusia dengan manusia. Kedua, seseorang bisa menerima keadaan diri sendiri apa adanya. Ia bisa mengalami damai sejahtera secara jasmani dan rohani.
Ketiga,seorang hamba Tuhan bisa mengerjakan pelayanan dengan rukun bersama-sama pengurus jemaat, jemaat, rekan sepelayanan. Bahkan, GBI bisa diterima dan dibela masyarakat. Keempat, terciptanya suasana damai di seluruh negara termasuk Indonesia. Kelima, menjalin hubungan yang baik dengan RT, RW, camat, pemerintah setempat, dan lain-lain. Kelima, ramah dengan alam. Misalnya ketika gereja menebang pohon, tanamlah dua pohon.
Syarat-syarat memiliki Kerajaan Allah yaitu menerima Yesus sebagai juru selamat pribadi. Sesuai dengan terjemahan lama, Kerajaan Allah bisa direbut oleh orang kuat. Artinya ialah orang yang mau melepaskan diri dari dosa, tabiat lama. “Merebut dengan kekerasan” artinya mencari dengan sekuat tenaga, berjuang dengan iman, melawan dosa dan hawa nafsu.
Pdt. Pudjo menjelaskan, Kerajaan Surga (Matius 13:44-46) diibaratkan sebagai harta terpendam. Seseorang menjual harta miliknya, demi membeli sebidang tanah yang mengandung harta karun. Perumpamaan itu, menurutnya berarti ia mempertaruhkan jiwa raganya dan sama dengan seseorang yang mencari sebuah mutiara yang berharga.
Berkaitan dengan akhir zaman, pejabat BPH GBI ini mengutip juga nats Wahyu 21:1-7 yaitu kualifikasi siapa saja yang bisa masuk kedalam Kerajaan Allah. Mereka adalah para pemenang, bukan penakut. Ia memberikan contoh, tentang terbitnya aturan pemerintah yang mengakibatkan kesulitan untuk mendirikan gereja. “Seorang pelayan Tuhan takut untuk mendirikan gereja. Jangan takut, anda sebagai gembala. Banyak orang yang tidak takut kepada Tuhan, tetapi malahan takut kepada manusia,” ujarnya.
Kualifikasi berikutnya ialah tidak percaya, melakukan kekejian di hadapan Tuhan. Hal itu termasuk gereja yang mengambil jemaat gereja lain. Pembunuh (kebencian). Persundalan berkaitan dengan seseorang yang masih terikat dengan jimat-jimat, perdukunan, okultisme, sihir. Dusta misalnya, seseorang yang mengarang (rekayasa) kesaksian di sela-sela kotbahnya. “Berita mimbar harus dalam kebenaran,” katanya.
Manifestasi Kerajaan Allah di dunia ini dengan indikator kehadiran Tuhan di tengah-tengah jemaat, mereka yang sakit disembuhkan oleh kuasa-Nya, solusi atas masalah di tengah-tengah jemaat dan lain-lain.”Dimana suatu lokasi gereja berada, hadirat-Nya memenuhi kota, aparat Pemerintah DKI Jakarta.
Selanjutnya, ia menambahkan bahwa pemberitaan Injil masa kini harus bersifat holistik (tubuh, jiwa dan roh). Jika hal itu dilakukan, dengan nada optimis Pdt. Pudjo menegaskan bahwa kuasa, kebenaran dan mujizat akan menyertai pemberitaan Injil tersebut. Pelayanan harus dibangun atas dasar Injil Kerajaan Allah. “Beritakanlah Injil kerajaan Allah,” katanya diakhir renungan Firman Tuhan. Ibadah pembukaan diakhiri dengan perjamuan kudus.


