Seminar EQUIP - Syarat Gereja Bintang Lima
Ditulis oleh prambudi Kamis, 09 Juni 2011 14:22
| Indeks Artikel |
|---|
| Seminar EQUIP |
| Gereja Bintang Lima |
| Bawa Alkitab ke Mimbar |
| Seluruh halaman |
Syarat-syarat tersebut ialah pertama, lokasi gedung yang strategis sehingga jemaat mudah mencapai gereja. Menurutnya, seorang hamba Tuhan harus memiliki “mimpi” yang besar. Artinya, ia bisa memimpikan gereja dan kantor yang berdiri di atas tanah yang memadai.
Sembari bersaksi, ia melakukan hal yang sama usai tamat Seminari Bethel Petamburan dan setelah menunggu selama 31 tahun, mimpi itu menjadi kenyataan kini. Pdt. Jacob dan jemaat telah menyelesaikan pembangunan gereja GBI Mawar Sharon di Kelapa Gading, kawasan Jakarta Utara.
Kedua, gedung yang indah. Hal ini termasuk penempatan speaker, mimbar, peralatan musik pada tempat yang semestinya. Ia menambahkan, musik harus bagus dan enak didengar. Ketiga, training (pelatihan) guna menunjang pelayanan gereja. Keempat, kepribadian hamba Tuhan. Ia harus tampil dengan senyum, hangat, cara bicara, menghimbau orang simpatik.
Kelima, kotbah yang berkualitas. Syaratnya, kata Pdt Jacob yakni, pertama, Isi kotbah harus meninggikan Yesus Kristus, bukan pribadi sang hamba Tuhan. Kedua, Alkitabiah. Pdt. Jacob menambahkan, sebuah kotbah yang berkualitas dan baik harus memiliki : tema, kerangka kotbah, dan kebenaran ilahi. Hamba Tuhan harus terus belajar, membaca berbagai hal. Ia berpesan, jemaat bisa saja lebih pintar dari seorang Pendeta/Gembala. Sementara itu, sang gembala tidak pernah ikut seminar apapun.
“Tugas Seminari Bethel berkaitan dengan pengajaran ialah meluruskan hal ini sesuai dengan Firman Tuhan,” ujarnya. Ia berpesan, jangan sampai seorang pelayan Tuhan fasih berbahasa roh tetapi hidupnya dikuasai oleh kesombongan.
Selain itu, Pdt. Jacob mengingatkan, jangan sampai seseorang mengatakan dirinya penuh dengan Roh Kudus, sehingga tidak perlu belajar. Gembala Mawar Sharon ini memberikan contoh, Petrus sebagai seorang nelayan tetapi Tuhan mengurapinya dengan Roh Kudus, sehingga saat ia berkotbah, 3.000 jiwa bertobat. Contoh lainnya ialah Rasul Paulus yang penuh dengan Roh Kudus tetapi belajar, sehingga Tuhan memakainya secara luar biasa seperti tertulis pada Alkitab.
“Jika Tuhan memanggil anda sebagai gembala, maka Ia akan memberikan petunjuk kepada anda untuk berkotbah,” ujarnya. Selain itu, Ketum BPH GBI ini juga memberikan pengarahannya seputar liturgi. Liturgi, katanya harus teratur, walau sang pengkotbah bergerak ke berbagai arah tetapi gerakannya harus terpimpin.
Ruang ibadah terdapat kursi, pujian diatur porsinya berapa prosentasenya, termasuk tantangan, mendoakan orang sakit, dan jemaat yang mempunyai masalah. Pelayanan gereja harus memperhatikan soal durasi waktu. “Mulailah dan akhirilah suatu ibadah dengan tepat waktu,” ujarnya.


