Gereja Bethel Indonesia

Hentikan Rencana Pembakaran Al Qur'an !

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Peserta aksi Bentangan spanduk, poster ukuran sedang dan besar dengan tulisan "Lintas Agama Melawan Pembakaran Al Qur'an" di pasang di depan Plaza Indonesia, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu sore (8/9).

Aksi ini dipelopori GPP (Gerakan Peduli Pluralisme) yang dipimpin Damien Dematra.Kegiatan ini dipicu oleh rencana Pastor Terry Jones, oknum Pendeta pemimpin Dove World Outreach Center di Florida, Amerika Serikat yang akan membakar Kitab Suci Agama Islam.

Hal itu akan dilaksanakannya pada 11 September 2010, bertepatan dengan peringatan tragedi serangan teroris ke menara kembar WTC  (World Trade Center) Amerika-Serikat. Sekaligus, ia mencanangkan hari tersebut sebagai "Hari Internasional Pembakaran Al Qur'an".

Sesuai dengan rilis, aksi Gerakan Peduli Pluralisme ini mendapat dukungan dari berbagai organisasi massa , para pemuka agama, tokoh masyarakat dan para artis, seniman. Mereka adalah  Forum Agama untuk Bhinneka Tunggal Ika, Gerakan Peduli Pluralisme, Front Umat Islam Bersatu, Front Pembela Islam (FPI), dan Hizbut Tahrir. Tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh lintas agama antara lain: Romo Magnis Suseno, Pendeta S. Supit, budayawan Betawi Ridwan Saidi, Ali Muchtar Ngabalin, Sekjen FPI Sobrie Lubis, advokat Eggie Sujana, novelis Damien Dematra, Dorce Gamalama dan Pong Hardjatmo.

Perwakilan FPI yang hadir dalam orasi singkatnya  mengatakan, umat Islam khususnya di Indonesia dan di dunia pada umumnya agar tidak terpancing dengan ulah  Terry Jones. "Tindakannya, jelas pelanggaran HAM. Pemerintah AS harus mencegah aksi ini. Pemerintah Indonesia harus lakukan diplomasi kepada pemerintah AS agar  Terry membatalkan aksinya. Jika ia tetap melaksanakan aksinya, agar dikenakan sanksi hukuman berat atau mati," ujarnya.Sementara itu, perwakilan dari agama Buddha (Majelis Buddhayana Indonesia) Sugianto mengecam keras aksi Pastor Terry.

Aksi Pastor Terry Jones, pria usia lebih dari setengah abad ini, mendapatkan kecaman keras baik di Indonesia, luar negeri, bahkan di AS sendiri. Berbagai reaksi dari dalam negeri dan luar negeri seperti ditulis oleh vivanews.com (Rabu, 8/9) adalah sebagai berikut :

Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan ulah Jones sebagai "rencana gila dan hanya dilakukan oleh kelompok agama yang ekstrim dan tidak toleran." Din menjelaskan sekte Jones ini hanyalah minoritas dan berada di luar gereja-gereja. Karena itu, Din mengimbau agar aksi protes menentangnya jangan sampai berlebihan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah dan tokoh-tokoh agama di Amerika Serikat untuk mencegah rencana itu. Ketua MUI KH Ma'ruf Amin menyatakan pemerintah AS punya kewajiban untuk mencegah supaya hasutan ini tidak memicu "konflik agama yang meluas di dunia." Untuk itu, MUI mendesak pemerintah Indonesia untuk meminta pemerintah AS segera mencegah peristiwa itu. KH Ma'ruf juga mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi.

Protes keras bukan hanya disuarakan pemuka agama Islam. Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Andreas A. Yewangoe bahkan sudah melayangkan surat sejak dua pekan lalu kepada Presiden AS Barack Obama dan organisasi gereja-gereja di AS. Isinya: mendesak pemerintah AS dan organisasi gereja untuk menggunakan segenap kewenangan mereka untuk mencegah rencana yang menurut Pendeta Andreas bukan hanya akan melukai hati umat Islam tapi juga umat beragama lainnya di Indonesia.

Andreas menjelaskan sudah ada kesepakatan antar pemimpin umat beragama pada pertemuan beberapa waktu lalu yang dihadiri Habib Rizieq Syihab dari FPI, Mgr. Johannes Pujasumarta dan Pendeta Mandagi dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), serta sejumlah tokoh agama lain untuk menolak aksi yang disebutnya sebagai "perbuatan hina" itu.

"Itu dilakukan oleh sekte kecil, kecil sekali, tapi menjadi meluas karena mereka menggunakan jejaring sosial seperti Facebook untuk menyebarluaskan rencananya," kata Andreas. Gereja yang dipimpin Jones beranggotakan tak lebih dari 50 jemaat saja.

Pendeta Mandagi dari KWI juga mengutuknya. "Sungguh terusik rasa keagamaan kami mendengar rencana kelompok yang berniat melecehkan dan merusak simbol keagamaan yang dihormati dalam agama Islam."

Di Amerika Serikat, aksi itu pun dikecam pemerintah federal para pemuka agama.Jaksa Agung AS Eric Holder menyatakannya sebagai gagasan "idiot dan berbahaya." Penasehat Presiden Barack Obama, David Axelrod, menyebutnya "total ngawur dalam segala hal."

Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, PJ Crowley, bahkan menyatakan bahwa "perbuatan [membakar Qur'an] itu sama dengan aksi para radikal dan jahanam yang menyerang kita pada 11 September 2001. Kami berharap makin banyak warga Amerika yang bangkit dan berkata bahwa perbuatan itu tidak sesuai dengan nilai-nilai Amerika."

Rabu dini hari, KoordFoto Terry Jonesinator Nasional Gerakan Peduli Pluralisme, Damien Dematra, menjelaskan dia telah berdialog dengan Craig Lowe, Wali Kota Gainesville, AS. Ini adalah kota di mana kelompok Jones berada. Kepada Damien,

Lowe menyatakan bahwa Pemerintah Florida mengutuk keras rencana Jones itu dan secara resmi telah melarang untuk melangsungkannya. Selain itu, di hari yang sama, 11 September, pemerintah kota akan menggelar aksi bertajuk "Hari Solidaritas dan Pluralisme."

Aksi ini akan diikuti ribuan warga kota dari berbagai kelompok agama dan ras untuk menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Gainesville antipati terhadap hasutan Jones itu.

Sekretaris Jenderal Dewan Gereja AS Pendeta Michael Kinnamon merilis pernyataan, yang dia sebut mewakili jutaan warga AS yang menolak ekspresi anti-muslim dari sekte itu. Menurut Kinnamon, rencana Jones itu adalah reaksi orang yang ketakutan sekaligus menyalahpahami sifat sejati ajaran Islam yang damai."Kesalahpahaman dan bingung, juga ketidakmampuan mencintai tetangga kita seperti dicontohkan Kristus. Itu yang ditunjukkan sekte tersebut ketika melecehkan kaum Muslim dan merencanakan 'Hari Internasional Pembakaran Qur'an'," kata dia, seperti dimuat situs CSmonitor. "Tindakan penuh kebencian tersebut bukanlah bagian dari iman Kristiani."

Pemuka Yahudi pun bersikap. Rabi Arthur Waskow dari Shalom Centre di Kota Philadelphia meminta umat Yahudi untuk turut membaca sejumlah kutipan Al-Qur'an untuk menunjukkan rasa solidaritas dan hormat mereka kepada kitab suci kaum Muslim itu. Pembacaan Al-Qur'an akan berlangsung di tengah ibadah Sabat Sabtu mendatang, 11 September 2010. [pram]



Konten ini telah dikunci. Anda tidak lagi dapat memposting komentar apapun.