Gereja Bethel Indonesia

Perdamaian Palestina-Israel?

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

E56-Dubes-PalestinaMasalah Palestina-Israel menjadi masalah semua bangsa di dunia dan orang Kristen di Indonesia. Alasannya, tanah kelahiran Yesus Kristus berada di Palestina, demikian disampaikan Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin (2005-kini) di Jakarta (Kamis, 10/11).


Ia menjadi tuan rumah pertemuan antara Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi dan tokoh-tokoh lintas agama. Menurut Din, pertemuan ini bertujuan untuk melakukan up-date tentang perkembangan situasi terkini di Palestina. Dalam pernyataannya, Dubes Fariz mengatakan pihak Palestina menginginkan dua hal dalam hubungan dengan Israel yaitu hidup bersama dalam kedamaian atau hidup bertetangga secara damai. Jika hal itu tidak bisa tercapai, lebih baik berpisah saja. Ia menambahkan, perdamaian Palestina dan Israel juga memerlukan bantuan, peran serta komunitas internasional. Dubes menambahkan, perayaan Natal sebagai kelahiran Yesus, dirayakan di sana oleh berbagai pemeluk agama dengan damai, yaitu Katolik, Ortodoks, Protestan, Kristen. Mereka merayakan secara bergantian hari dari Senen-Kamis.

 

Sementara itu, Sekum BPH GBI Pdt. Ferry Haurissa ketika dihubungi Redaksi via telepon menyatakan pandangannya soal hubungan Israel-Palestina. Ia berpendapat bahwa konflik Palestina dari dahulu kala bukan konflik agama tetapi persoalan tanah saja. Untuk mendukung hal itu, ia melontarkan fakta bahwa semua agama (di Palestina, Red) bisa hidup dan berkembang bersama dengan damai.”Ketidakharmonisan di sana terjadi karena masalah perebutan tanah,” tutur Pdt. Ferry. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa kita memiliki kewajiban mendoakan Israel-Palestina agar menemukan solusi yang terbaik. Selain itu, kita harus kembali kepada Alkitab tentang mereka. “Tuhan akan menjadikan bangsa Israel sebagai ‘jam dunia’ bagi Tuhan,” tegasnya.


E56-Romo-BennyIndonesia harus lebih pro aktif melobi negara-negara besar di dunia dan PBB guna mewujudkan perdamaian Palestina-Israel. Hal itu merupakan inti pandangan Romo Benny Susetyo selaku Sekretaris Eksekutif Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan dalam wawancara singkat dengan Redaksi. “Palestina-Israel harus menggelar dialog perdamaian dan saling mengakui,” ujarnya. Selain itu Romo Benny berpendapat harus ada terobosan bagaimana mereka bisa hidup berdampingan secara damai. Ia menilai, Israel bisa damai dengan negara-negara lain, misalnya Yordania dan Mesir.


Indonesia, menurutnya bisa menjadi pemeran penting dalam hal itu. Karena, Indonesia adalah negara moderat dan bisa menjadi penengah bagi perdamaian dunia. Soal ketiadaan hubungan diplomatik antara kedua negara tersebut, menurutnya bukan menjadi penghalang menjadi pendamai. Masalah internal di tubuh Palestina-Israel juga menjadi penghalang perdamaian. Ia menilai, di dalam mereka ada pendapat yang pro dan kontra soal perdamaian ini.Dengan demikian, mekanisme perdamaian secara internal belum tercapai. “Mereka harus ada satu kata yaitu setuju berdamai dan PBB serta pihak internasional harus menekan mereka untuk melakukan hal itu. Jika ada gencatan senjata saja, maka perdamaian itu bisa tercapai,” ujarnya. Konflik bersenjata kedua belah pihak telah berlangsung lama dan menimbulkan banyak korban. Doakan proses perdamaian ini bisa menjadi kenyataan dan Indonesia bisa berperan lebih aktif lagi. [pram]

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh