Gereja Bethel Indonesia

Mencapai Kesatuan Iman

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

aaomsur“Mencapai Kesatuan Iman” merupakan judul renungan Firman Tuhan oleh Pdt. Andreas Soerjadi (Om Sur) sesepuh GBI di Graha Bethel, Jakarta (Jumat, 27/5), saat perayaan Hari Ulang Tahun Pdt. DR. Japarlin Marbun ke-50.


Acara ini juga dimeriahkan dengan peluncuran buku karya Pdt. Japarlin yang berjudul “The Unfinished Task” (Tugas Yang Belum Selesai) yang terdiri dari 398 halaman. Om Sur mengutip nats Efesus 4:13 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”.  Om Sur menekankan tentang kehidupan keselamatan yang berkaitan dengan kehidupan baru yang progresif, bertumbuh, bukan berkaitan dengan hal jasmaniah melainkan juga spiritual. “Terus belajar mencapai pengenalan kepada Tuhan sehingga mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah (Kristus)”, ujarnya. 


 

Sesepuh GBI ini menjabarkan, kedewasaan di dalam Kristus terdiri atas 2 faktor yakni Pertama, pertumbuhan rohani dari Tuhan Allah, keselamatan, hikmat surgawi dan karunia-karunia. Kedua, membangun diri di dalam kasih Kristus. Menurut Om Sur, kesatuan iman bisa dicapai dengan cara pembenaran oleh Anak Allah (pengudusan pasif). Hal ini berkaitan dengan darah Kristus memberikan pengampunan dosa seseorang. Cara lainnya ialah pengudusan aktif, yaitu ketika seseorang dibenarkan oleh Kristus melalui pengadilan ilahi.


 

Berkaitan dengan pembenaran dan pengudusan itu, Om Sur mengingatkan semua hadirin untuk berusaha setiap hari memahami pesan-pesan Kristus. Hal itu berasalasan, sebab menurutnya, orang percaya hidup di akhir zaman. Nats Wahyu 22:11 “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya !".  


 

“Tindakan yang benar ialah semakin menguduskan diri setiap hari dari beberapa hal (pengudusan aktif) , misalnya perasaan ego, paham-paham yang salah, kesombongan, rasa puas diri, rasa lebih jika membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bahkan, tanpa sadar, kita sering ucapkan kata-kata yang kasar kepada teman atau istri”, ujarnya.


 

aapdtjmnistriSembari mengutip nats-nats Firman Tuhan, ia mengatakan, ada cara-cara pengudusan diri sesuai dengan Firman Tuhan yakni nats Yohanes 15:3 “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu”. Nats Yohanes 17:18-19 “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran”. I Yohanes 3:3 “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci”.


 

Ia menambahkan, proses pengudusan diri itu tidak pernah terhenti, sampai orang percaya mendapatkan suatu mahkota kehidupan. Nats I Korintus 9 : 26-27 “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak”.


 

Selain itu, katanya, teruslah membangun diri dalam kasih Kristus melalui cara menyucikan diri. Nats 1 Timotius 4:16 “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau”.


 

Berkaitan dengan akhir zaman, Om Sur mengingatkan, agar para hadirin mewaspadai pengajaran-pengajaran yang tidak benar. Hal itu seperti ramalan hari kiamat yang dirilis oleh sekumpulan orang yang menamakan dirinya yaitu para penyiar radio Kristen sedunia.Mereka meramalkan bahwa kiamat akan tiba pada tanggal tertentu, kemudian tidak terjadi. Selanjutnya, mereka meralatnya ke tanggal 21 Oktober 2012. “Jangan sampai orang percaya tersesat dengan ajaran demikian. Waspada saja,” ujarnya. Ada juga pengajaran yang mengajarkan “kuasa” dibalik air suci, imbuh Om Sur. “Kalau diperciki air suci ini, anak sekolah jadi pintar, usahanya maju. Nah, ini tidak benar,” katanya dengan nada prihatin.



 

Pdt. Japarlin Marbun tampak bersuka-cita dan bahagia malam itu. Dalam sambutan ringkasnya, ia mengatakan bahwa penulisan buku tersebut dilatarbelakangi oleh sebuah inspirasi nyata dan bersumber dari perjalanan hidupnya. Ia mengisahkan, tahun 2006 mengalami pengalaman hidup mendekati kematian. Menurut analisa medis, penyebabnya ialah akibat demam berdarah yang sangat parah. Sehingga, saat itu, trombositnya mengalami penurunan dari angka normal 165.000 menjadi 2.000.


 

Dalam kondisi kritis tersebut, ia sebenarnya siap dan rela untuk “pergi”. Namun, pada saat itu Tuhan mengingatkannya bahwa ada “tugas yang belum selesai”. Selanjutnya, rohnya kembali kepada tubuhnya dan ia hidup sampai hari ini.


 

“Setelah melewati peristiwa itu, saya menyadari bahwa hidupku yang masih ada ini adalah untuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum selesai tersebut,” ujarnya. Kerinduan Pdt Japarlin ialah seperti Rasul Paulus, sesuai dengan nats Filipi 1:20 “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku”.


 

Pejabat BPH GBI ini selanjutnya menjabarkan, Tuhan mempercayakan kepadanya suatu kehidupan yang harus digunakan secara maksimal untuk   menyelesaikan tugas-tugas dan pekerjaan-Nya. Ia juga bertekat untuk tidak mengecewakan Tuhan seperti melalaikan tugas-tugas yang dipercayakan Tuhan kepada dirinya.


 

Pdt. Japarlin mempunyai target utama yaitu menyelesaikan tugas-tugas yang belum selesai itu. Gembala GBI Permata, Ujung Menteng dan Duta Permai ini mengutip nats Firman Tuhan dari   nats KIS 20:24 “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah”.


 

Nats tersebut sebagai dasar agar ia tetap fokus kepada target utamanya. “Saya sadar betul, apa yang saya kerjakan masih jauh dengan apa yang Tuhan harapkan. Namun, saya berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik dari apa yang dapat saya lakukan,” ujarnya mantap.


 

Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan penyalaan lilin dan tiup lilin, potong kue dan bagi kue. Mengakhiri acara, Pdt. Japarlin menyerahkan buku karyanya kepada Ketua PGI (Pdt. A.A. Yewanggoe), Pdt. Mulyadi Sulaiman (Ketua PGPI), Pdt. Robinson Nainggolan (PGPI),  Om Sur, Pdt. Soehandoko Wirhaspati, Pdt. Jorry Tasik, Pdt. Patty Rajawane (pejabat inti GPdI).  Jamuan makan malam menutup seluruh rangkaian acara ini.


 

Sekilas Buku Tugas Yang Belum Selesai

 

aabukupdtjmBeberapa pejabat memberikan kata sambutan di buku ini, yakni Direktur Jenderal Kristen Departemen Agama RI, Ketua Umum BPH GBI, dan Ketua Umum PGPI. Buku ini terdiri atas 8 Bab, yakni bab pertama: uraian tema Pdt. Japarlin Marbun. Ia menceritakan secara ringkas bagaimana riwayat perintisan dan penggembalaan jemaat lokal yakni GBI  Permata, Bekasi, GBI Duta Permai, Bekasi dan GBI Ujung Menteng, Jakarta Timur. Bagian berikutnya, keikutsertaannya di organisasi BPH GBI. Ia juga menyumbangkan pikirannya perihal beberapa langkah untuk memajukan organisasi GBI, setelah sekian lama ia berkecimpung di dalamnya.


 

Bab-bab berikutnya (Bab 2 – Bab 6) menuliskan tentang tugas-tugas apa saja bagi gereja dan pelayan Tuhan yang termasuk pada kategori “belum selesai” tersebut. Bab demi bab  ditulis oleh para hamba Tuhan, akademisi, dosen, pejabat BPH GBI yang kompeten di bidangnya. Mereka ialah Ketua PGI, Ketua PGLII, pejabat PGPI Jakarta, gembala-gembala gereja, Rektor dan dosen STTBI Petamburan, pejabat-pejabat BPH GBI dan lain-lain.


 

Selanjutnya, Bab 2 buku ini menuliskan tentang Tugas Yang Belum Selesai di bidang kesatuan gereja dan peran gereja bagi kebangsaan. Bab 3 tentang bidang kepemimpinan gereja dan pengembangan organisasi GBI. Bidang misi, kemitraan dan PI, dituliskan di Bab 4. Bidang pengembangan jemaat (Bab 5), dan bidang pendidikan dan spiritualitas (kepemimpinan, kapasitas diri). Sementara itu, Bab 7 memuat tulisan-tulisan Pdt. Japarlin yang pernah dimuat oleh media. Bab terakhir menuliskan kesan-kesan sahabat se pelayanannya, sesepuh GBI, pejabat BPH GBI  dan ucapan selamat ulang tahun dari para Ketua BPD GBI se-Indonesia. Selamat HUT untuk Pdt. Japarlin Marbun, maju terus di ladang Tuhan. Amin. [pram]


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh