Membersihkan Bumi Pertiwi - Pernyataan Tokoh Lintas Agama
Ditulis oleh prambudi Rabu, 14 September 2011 15:33
| Indeks Artikel |
|---|
| Membersihkan Bumi Pertiwi |
| Makna Puasa |
| Pernyataan Tokoh Lintas Agama |
| Seluruh halaman |
KH. Damanhuri, pimpinan Pondok Pesantren Al Karimiyah, Depok, Jawa-Barat dalam pernyataaannya di hadapan wartawan cetak dan elektronik mengatakan ia rindu terjadi suatu perubahan menuju kearah yang lebih baik di Indonesia. "Saat ini banyak maling teriak maling. Banyak buaya-buaya yang berkeliaran dan rakyat menjadi korban", ujarnya. Ia menegaskan dalam acara ini, tidak ada orasi melainkan doa bersama menurut agama / keyakinan masing-masing.
Optimis dengan doa yang dipanjatkan dengan tulus akan membawa kebaikan bagi bumi pertiwi adalah inti pernyataan Indra Udayana, perwakilan agama Hindhu dari Bali. Sementara itu, perwakilan Kristen Pdt. Shepard Supit mengatakan ia rindu mengambil bagian dalam pergumulan bangsa dengan cara ikut menaikkan doa permohonan kepada Tuhan Yesus, supaya Ia turun tangan untuk membangkitkan dan memulihkan bangsa Indonesia ini. Ia menambahkan bahwa kegiatan rohani ini bukan bersifat sektoral, melainkan bersama-sama dari lintas agama.
Mewakili Katolik, Gaharu menyampaikan umat menaikkan doa kepada Tuhan sebab saat ini kondisi negara dalam sisi yang memprihatinkan. Diharapkan, melalui kegiatan doa dan puasa bersama ini, Indonesia bisa berubah menuju ke arah yang lebih baik dan mencapai kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan bisa terlaksana dengan baik jika negara bebas dari unsur keserakahan, kebencian, dan iri hati. Dengan demikian, bangsa menjadi besar dan makmur. Hal itu disampaikan wakil agama Budha, yakni seorang Bhiksu.
Sumarmi Harja, tokoh Kong Hu Chu mengingatkan bahwa saat ini negara dalam kondisi "gonjang ganjing" (tidak jelas, Red). Ia menjelaskan saat ini terjadi kebohongan, kesesatan seolah-olah menjadi suatu nilai kebenaran. Kesalahan dan kebenaran tidak bisa lagi dibedakan maka hal itu akan menjadi suatu kekacauan.
Selain itu, ia menghimbau agar semua masyarakat memiliki hati nurani yang bersih, pikiran, perbuatan, saling solider berguna untuk membantu sesama. Tanpa ada persatuan yang nyata, sulit untuk membangun dan mengurus negara. Saling mengasihi dalam damai dan hidup harmonis.
Mantan Menteri di era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli hadir juga pada acara ini. Ia berpandangan bahwa negara sedang "sakit", banyak masalah. Tujuannya, agar bumi pertiwi bisa bersih dari kejahatan, korupsi yang merugikan rakyat. Selain itu, bisa terjadi perubahan ke arah yang lebih baik. "Ini gerakan damai, multikultural, untuk menuju Indonesia yang lebih baik," ujarnya.
Muhammad, perwakilan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) mengatakan bangsa dan negara ini telah keluar dari niat mula-mula pendiri bangsa yaitu dari sisi etika, moral dan agama.Pihak mahasiswa akan terus mengawal bangsa ini dan memberikan kontribusi menjadi satu momentum untuk membenahi bangsa ini. "Kami rindu ada keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah gagal dalam segala sektor," ujarnya.
Berita Terkait
Persoalan negara yang krusial saat ini adalah maraknya kasus korupsi, gizi buruk, kekerasan atas nama agama tertentu terhadap pemeluk agama lain, "mengambangnya" penyelesaian kasus-kasus hukum yang membelit pihak tertentu, pengangguran, kemiskinan, terbatasnya lapangan kerja, kerusakan gedung-gedung sekolah, "pertikaian kata-kata" antara tokoh tokoh politik tertentu dengan pihak-pihak lain dan segudang masalah lainnya. [pram]
Doakan : Gereja-gereja di Indonesia terus mendoakan bangsa ini agar menuju ke arah yang lebih baik dan sejahtera. Amin.


