Kalau Tidak Salah, Lawan ! - Paparan Ketua Umum PGI
Ditulis oleh prambudi Senin, 20 Juni 2011 13:14
| Indeks Artikel |
|---|
| Kalau Tidak Salah, Lawan ! |
| Sosok Yap Thiam Hien |
| Paparan Ketua Umum PGI |
| Apa kata Todung Mulya Lubis |
| Seluruh halaman |
Ketua Umum PGI Pdt. Andreas A. Yewangoe hadir dalam acara ini sebagai narasumber. Ia menilai, sebagai pengacara, Yap Thiam Hien memiliki prinsip bahwa profesinya sebagai ladang pelayanan bukan untuk memperoleh keuntungan materi.

Seputar pembelaan terhadap kaum lemah, Ketua Umum PGI ini yakin, bahwa Yap membela kaum lemah dan ia mengamalkan “iusticia creativa”, yakni suatu keadilan yang menciptakan ruang dan kemungkinan , sehingga yang lemah memperoleh kekuatan untuk tampil dan memperlihatkan dirinya.
“Relevansi Pemikiran Yap Thiam Hien dalam Mewujudkan Masyarakat Berkualitas”, merupakan judul paparan Dr. Albert Hasibuan. Mantan Ketua Dewan Mahasiswa UKI pada tahun 1962 ini menyatakan, bahwa dirinya kerap mengadakan dialog dengan Yap yang kala itu sebagai anggota Yayasan UKI.
Sosok Yap, kata Albert menonjol dalam pikirannya sebagai pribadi yang mendambakan negara memberikan perlakukan yang sama (equal) di muka hukum. “Jelas, ia tidak terima kalau ada penindasan dan perlakuan tidak sama dan diskriminatif. Yap juga menjunjung tinggi azas pra duga tak bersalah serta prinsip pembelaan hukum sekalipun ia tidak mampu.
Sembari mengenang, mantan anggota Komnas HAM ini mengatakan, pada bulan Oktober 1966, saat Yap membela dr. Soebandrio, mantan Menlu Orde Lama, ia dengan lantang mengutip Injil Yohanes 8:7 “Barangsiapa diantara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”.
Sekretaris Umum Center for Development and Culture Josef Purnama Widyatmadja sebagai pembicara berikutnya, mengenang sosok Yap sebagai orang yang aktif di Sinode GKI, Dewan Gereja di Indonesia (DGI/PGI) dan Dewan Gereja se Dunia.
Sosok Yap tidak pernah segan menegur hamba Tuhan yang hidupnya tidak sesuai dengan kebenaran dan Firman Tuhan. Mencermati perkembangan politik dan ekonomi pada era 1960-an dan sesudahnya, Yap katanya, memberikan kritik kepada penguasa yang saat itu menjadikan etnis tertentu sebagai “kambing hitam “ekonomi dan politik”. Sebaliknya, ia juga mengkritik etnis tertentu tersebut yang hidup serakah dan memperkaya diri sendiri.


