Gereja Bethel Indonesia

Kalau Tidak Salah, Lawan ! - Paparan Ketua Umum PGI

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 
Indeks Artikel
Kalau Tidak Salah, Lawan !
Sosok Yap Thiam Hien
Paparan Ketua Umum PGI
Apa kata Todung Mulya Lubis
Seluruh halaman

 

Ketua Umum PGI Pdt. Andreas A. Yewangoe hadir dalam acara ini sebagai narasumber. Ia menilai, sebagai pengacara, Yap Thiam Hien memiliki prinsip bahwa profesinya sebagai ladang pelayanan bukan untuk memperoleh keuntungan materi.

 

 
Pdt. Yewangoe mengemukakan bahwa ada 3 komitmen besar yang tetap diperjuangkan  pengacara ini yakni negara hukum, penegakan keadilan, HAM (Hak Asasi Manusia).
 
“Ia anti ras diskriminasi. Yap mengatakan, saya tidak mengerti apa yang dimaksud  dengan warga negara asli maupun keturunan. Karena, jika dilihat dari asal usul, bangsa-bangsa Asia Tenggara yang merupakan Indo China memiliki nenek moyang yang berasal dari propinsi Yunan, China bagian selatan. Jadi, warga negara Indonesia dengan ras Melayu sama-sama dari China”.

Pembicara YTH UKI

 

Seputar pembelaan terhadap kaum lemah, Ketua Umum PGI ini yakin, bahwa Yap membela kaum lemah dan ia mengamalkan “iusticia creativa”, yakni suatu keadilan yang menciptakan ruang dan kemungkinan , sehingga yang lemah memperoleh kekuatan untuk tampil dan memperlihatkan dirinya.

 

“Relevansi Pemikiran Yap Thiam Hien dalam Mewujudkan Masyarakat Berkualitas”, merupakan judul paparan Dr. Albert Hasibuan. Mantan Ketua Dewan Mahasiswa UKI pada tahun 1962 ini menyatakan, bahwa dirinya kerap mengadakan dialog dengan Yap yang kala itu sebagai anggota Yayasan UKI.

 

Sosok Yap, kata Albert menonjol dalam pikirannya sebagai pribadi yang mendambakan negara memberikan perlakukan yang sama (equal) di muka hukum. “Jelas, ia tidak terima kalau ada penindasan dan perlakuan tidak sama dan diskriminatif. Yap juga menjunjung tinggi azas pra duga tak bersalah serta prinsip pembelaan hukum sekalipun ia tidak mampu.

 

Sembari mengenang, mantan anggota Komnas HAM ini mengatakan, pada bulan Oktober 1966, saat Yap membela dr. Soebandrio, mantan Menlu Orde Lama, ia dengan lantang mengutip Injil Yohanes 8:7 “Barangsiapa diantara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”.

Sekretaris Umum Center for Development and Culture Josef Purnama Widyatmadja sebagai pembicara berikutnya, mengenang sosok Yap sebagai orang yang aktif di Sinode GKI, Dewan Gereja di Indonesia (DGI/PGI) dan Dewan Gereja se Dunia.

 

Sosok Yap tidak pernah segan menegur hamba Tuhan yang hidupnya tidak sesuai dengan kebenaran dan Firman Tuhan. Mencermati perkembangan politik dan ekonomi pada era 1960-an dan sesudahnya, Yap katanya, memberikan kritik kepada penguasa yang saat itu menjadikan etnis tertentu sebagai “kambing hitam “ekonomi dan politik”. Sebaliknya, ia juga mengkritik etnis tertentu tersebut yang hidup serakah dan memperkaya diri sendiri.



Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh