Gereja Bethel Indonesia

Persekutuan

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Bacaan: Markus 1:36; Matius 14:23

 

"Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ" (Matius 14:23)

 

Dari kedua ayat diatas, secara sepintas lalu kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus sebagai Putra Allah Yang Tunggal, yang datang kedalam dunia ini sungguh-sungguh "rajin berdoa", kehidupan-Nya dipenuhi dengan kegiatan berdoa.

 

Dari ayat diatas, kita menemukan bahwa pagi hari, sebelum matahari menampakkan diri, Tuhan Yesus sudah mengkhususkan waktu untuk berdoa. Begitu juga malam hari saat matahari tidak lagi menampakkan diri, Yesus kembali berdoa. Ini semua menunjukkan kalau Yesus begitu mengutamakan doa dalam kehidupan-Nya.

 

Akan tetapi apabila kita memperhatikan kehidupan Tuhan Yesus secara lebih jauh, maka kita akan menemukan, bahwa apa yang dilakukan Tuhan Yesus bukan hanya sekedar berdoa, terlebih khusus Yesus membangun persekutuan dan kerekatan dengan Bapa di Sorga.

 

Yesus datang kepada Allah Bapa pada pagi dan malam hari bukan hanya sekedar berdoa untuk meminta dan menyampaikan permohonan, tetapi lebih dari itu, yakni Yesus senantiasa membangun persekutuan yang erat dengan Bapa di Sorga.

 

Persekutuan yang bukan semata-mata dibangun atas berbagai permintaan dan permohonan, melainkan persekutuan yang dibangun diatas dasar kasih dan keberserahan-Nya kepada Allah.

 

Persekutan yang harmonis akan tetap terjali antara saudara dengan Tuhan Yesus, jika ada komitmen dari dalam diri saudara sendiri

 

 
Renungkanlah

1. Bagaimana persekutuan saudara dengan Tuhan saat ini? Sudahkah saudara membangun persekutuan yang erat dengan-Nya?

2. Teladan apa yang bisa saudara ambil dari kehidupan Tuhan Yesus Kristus menyangkut persekutan dengan Bapa-Nya?

 
Dalam banyak perkataan-Nya, Yesus menekankan tentang kesatuan-Nya dengan Bapa di Sorga, kesatuan ini menjadi sangat begitu terlihat ketika Yesus di kayu salib dan berteriak "Eli, Eli, lama Sabakhtani", yang berarti: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46; Markus 15:34).

 

Penderitaan terbesar Yesus Kristus saat Ia di kayu salib bukanlah penderitaan secara fisik-Nya saja, melainkan keterpisahan-Nya dengan Bapa di Sorga, terputusnya hubungan antara Yesus dengan Allah Bapa, walau hanya sesaat itu sangat memberatkan Yesus.

 

Sebagai pengikut Yesus mestinya kita membangun pola persekutuan yang sama dengan Yesus, yaitu rekat dan bersekutu dengan Allah bukan hanya karena kita membutuhkan pertolongan, melainkan karena kita ingin bersekutu dan menyatu dengan Tuhan dalam cinta dan kasih yang tulus.

 

Bukanlah sebuah kesalahan ketika orang Kristen datang dan meminta kepada Tuhan, itu adalah hal yang baik, sebab kepada siapa lagi kita harus meminta kalau bukan kepada Tuhan, hanya saja sekarang pertanyaannnya adalah: Jika Allah tidak menjawab doa kita, apakah kerekatan persekutuan kita dengan Tuhan akan tetap terjalin? Marilah belajar dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang berkata dengan begitu tegas kepada raja Nebukadnezar, "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:16-18).

 

Milikilah persekutuan yang erat dan rekat dengan Tuhan! Selamat bersekutu dengan-Nya

 

Doa

Tuhan Yesus, mulai saat ini aku mau kembali mempererat persekutuanku dengan-Mu. Mampukan aku untuk tetap menjaga komitmen ini ya Tuhan. Amin.

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh