Ditulis oleh Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham Selasa, 10 May 2011 15:31
A. PEMAHAMAN TENTANG KAUM AWAM
Istilah kaum awam (Ing: laity) berasal dari kata Yunani: laikos, yang artinya: orang yang tidak punya jabatan resmi atau orang yang tidak punya pendidikan, bukan ahli. Mereka adalah jemaat biasa, bukan rohaniwan.
Sebetulnya dalam gereja mula-mula semua orang percaya dilibatkan dalam pelayanan. Bahkan dalam Kisah 6:1-7, para rasul memanggil jemaat untuk memilih tujuh orang untuk melayani orang miskin. Dalam Kisah 8:1b, 4 dicatat juga setiap anggota jemaat melayani dan mengabarkan Injil, sedangkan para rasul mengarahkan dan melengkapi mereka (Ef. 4:11-12). Jadi pendeta bukanlah “bintang panggung” yang melakukan segalanya sendiri (“one-man show”) melainkan orang yang melatih jemaat agar bisa melayani.
Pemisahan kaum awam dan rohaniwan mulai terbentuk sejak Konstantin mengeluarkan dekrit yang mengharuskan seluruh rakyat Romawi beragama Kristen. Mulai saat itu jutaan orang yang belum bertobat terpaksa pergi ke gereja, sambil membawa 1001 macam tahayul, sihir, ajaran sesat dan sinkretisme ke dalam gereja. Lambat laun timbullah pemikiran untuk memisahkan para rohaniwan (clergy) dengan kaum awam (laity). Akibatnya, dalam perkembangan selanjutnya pelayanan gerejawi menjadi kewajiban sekelompok kecil orang saja.
Ketika Martin Luther melakukan reformasi gereja, dia sangat menekankan masalah keimamatan setiap orang percaya (I Petrus 2:9), berarti kaum awam pun terpanggil untuk melayani walaupun mereka tidak pernah ditahbiskan secara khusus sebagai klerus (rohaniwan). Sebagai akibatnya kemudian banyak kaum awam yang melayani dan menjadi berkat yang besar bagi perluasan kerajaan Allah, antara lain: John Wesley, William Carey, Nicolaus von Zinzerdorf, D.L. Moody dll.
B. MELIBATKAN KAUM AWAM DALAM PELAYANAN
Menurut Bruce Larson ukuran keberhasilan sebuah gereja bukanlah dari besarnya gedung, banyaknya jemaat, kuatnya keuangan, tapi dari berapa banyak jemaat yang terlibat dalam pelayanan!
Untuk itu setiap jemaat harus menyadari bahwa dalam setiap generasi Allah membangkitkan orang-orang pilihan-Nya untuk melayani Dia dan menjadi kawan sekerja-Nya (I Kor. 3:9). Ada dua kata kunci dalam kekristenan, yaitu: Marilah (Mat. 11:28) dan Pergilah (Mat. 28:19). Itu berarti setelah kita diselamatkan, kita harus bekerja untuk Tuhan (Mat. 20:6-7), memenangkan jiwa bagi Kristus (Mat. 4:19). Jangan seperti hamba yang malas, yang dimurkai tuannya karena menyia-nyiakan talenta yang Dia berikan (Mat. 25:14-30). Seperti Kristus datang untuk melayani (Mark. 10:45), kitapun diutus Kristus untuk menjadi saksiNya (Yoh. 20:21). Orang yang merasakan jamahan kasih Tuhan pasti akan tergerak untuk melayani (Mat. 8:14-15, Yes. 6:8).
Ada dua panggilan pelayanan:
1. Panggilan Umum: Bagi setiap orang Kristen, untuk menjadi saksiNya, menjadi garam dan terang dunia (Mat. 28:19-20).
2. Panggilan Khusus: Bagi orang tertentu, untuk menjabat sebagai rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar/guru (Ef. 4:11-12). Fungsinya: melengkapi jemaat untuk melayani/ membangun tubuh Kristus.
Ada dua bentuk pelayanan:
1. Pelayanan yang bersifat ke dalam gereja (Ibr. 10:24-25), agar jemaat berfungsi sebagai tubuh Kristus yang saling melayani sesuai karunianya (Rm. 12:4-8). Misalnya di bidang: Sekolah Minggu, Pemuji, Administrasi, Konseling, Kelompok Sel, Usher/Kolektan, dll.
2. Pelayanan yang bersifat penjangkauan keluar (Mat. 28:19). Misalnya: penginjilan pribadi, kunjungan ke rumah sakit/penjara, pelayanan sosial, dll. Kita juga bisa menjadi saksi sesuai profesi kita di bidang: pemerintahan, pendidikan, media, kesenian, usaha. Ini dikenal dengan istilah “tent-maker”.
Wujud komitmen pelayanan dalam sebuah gereja lokal, antara lain:
1. Menjadi jemaat yang aktif dan bertanggung jawab serta tidak berpindah-pindah gereja (ada keanggotaan yang jelas) Kis. 2:41, 47b.
2. Setia menghadiri acara bersama seperti: ibadah Minggu, kelompok sel, doa, SOM, dll. (Ibrani 10:25).
3. Bicaralah hal yang baik tentang gereja. Gereja merupakan “keluarga” kita di dalan Kristus. Biarpun ada kekurangan dalam gereja, jangan biarkan roh kritik berkembang. Biarkan anak-anak kita mendengar perbincangan yang baik mengenai pendeta, majelis, dll.
4. Mendukung sepenuhnya visi dan misi jemaat lokal (Kis. 20:27,31-32).
5. Memberi waktu dan tenaga untuk perkembangan gereja. Pikirkanlah apa yang dapat anda sumbangkan pada tubuh Kristus lewat keterlibatan anda. Waspadalah terhadap pemikiran bahwa seolah-olah gereja harus memenuhi segala kebutuhan anda. “Jangan tanya apa yang gereja bisa berikan padamu, tetapi tanyalah apa yang kau dapat berikan untuk gerejamu”. Bila ada orang berkata, “saya tidak mendapat apa-apa dari gereja” sebenarnya ia mengatakan, “saya tidak memberikan apa-apa kepada gereja.”
6. Menyokong gereja dengan keuangan secara teratur, melalui persepuluhan dan persembahan (II Kor. 8:14; 9:6-7).
7. Tunduk dan taat kepada pemimpin rohani (Ibr. 13:17). Dengarlah nasehat dari hamba Tuhan, doakanlah mereka serta tunjukkanlah keramahtamahan pada para hamba Tuhan di gereja anda.
8. Mau membagi hidup secara tetap (I Tes. 2;8, 11).
Kita harus saling menanggung beban dengan sesama anggota gereja, karena kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang satu (Gal. 6:2, I Kor. 12:25-26). Apapun yang kita lakukan untuk yang terkecil dalam keluarga Allah, sesungguhnya kita melakukannya untuk Yesus (Matius 25:34-40). Jangan menunggu sampai seseorang meminta tolong pada anda. Berinisiatif mengunjungi yang sakit dan berusia lanjut. Bawalah makanan untuk mereka yang sedang mengalami kesulitan keuangan, hiburlah mereka yang menderita.
C. PRO KONTRA KETERLIBATAN KAUM AWAM DALAM PELAYANAN
Keterlibatan awam dalam pelayanan memberikan dampak kemajuan yang besar dalam sebuah gereja. Namun harus diakui, akibat pemahaman tentang keimamatan setiap orang percaya yang berlebihan ada pula kaum awam yang kemudian merasa sombong rohani dan tidak menganggap perlu lagi jabatan gereja, hukum gereja, anggaran rumah tangga gereja. Semua imam boleh bergaya bebas semaunya sendiri: boleh mengadakan sakramen sendiri, menikahkan orang, dll. Akibatnya muncullah yayasan penginjilan, persekutuan doa yang menjadi saingan gereja yang resmi. Tetapi syukurlah kini banyak orang yang telah menyadari bahwa mereka harus menghargai dan mendukung pelayanan gereja yang ada.
Ada gereja yang masih menutup diri dan tidak melibatkan kaum awam dalam pelayanan rohani, antara lain karena:
1. Menganggap pelayanan hanya layak dikerjakan oleh pendeta karena bersikap sakral (clergy oriented ministry). Sedangkan kaum awam dianggap kurang rohani, kurang dekat dengan Tuhan.
2. Kuatir terjadi sinkretisme dalam pelayanan karena pengetahuan teologi awam yang kurang.
3. Tidak melihat kaum awam sebagai anggota tubuh Kristus yang bisa berfungsi sesuai karunia rohani yang diberikan Roh Kudus.
4. Kuatir kalau pelayan kaum awam tidak diterima oleh jemaat.
5. Kuatir kalau kaum awam menyaingi atau mengambil alih kepemimpinan gereja.
Tetapi ada pula gereja yang menerima keterlibatan kaum awam dalam pelayanan rohani, antara lain karena berpandangan:
1. Kaum awam yang dididik melalui kursus Alkitab, SOM, lebih mudah dibina ketimbang lulusan sekolah teologi.
2. Kaum awam juga lebih mandiri karena bisa membiayai diri dalam pelayanan
3. Kaum awam memiliki dedikasi yang lebih tinggi dan motivasi pelayanan yang baik, karena tidak melihat pelayanan sebagai suatu profesi.
4. Kaum awam sudah memiliki pengetahuan umum dan pengalaman dari profesi sekuler mereka, sehingga akan lebih mudah berkomunikasi dengan orang awam lainaya.
5. Dalam pelayanan kaum awam dianggap lebih mengandalkan kuasa Allah daripada pengetahuan teologi atau intelek.
D. STRATEGI PEMBERDAYAAN KAUM AWAM
Melihat potensi kaum awam yang sangat besar, mereka seharusnya diberdayakan dalam pelayanan, bukannya diperdayakan. Beberapa langkah untuk melibatkan kaum awam dalam pelayanan antara lain:
1. Timbulkan rasa memiliki dalam hati kaum awam: menyadarkan mereka bahwa pelayanan bukan tugas pendeta saja tapi tugas semua orang percaya.
2. Rekrut mereka dan berikan tanggung jawab dalam bidang pelayanan tertentu berdasarkan kualifikasi dan kerinduan mereka.
3. Beri pelatihan yang memadai untuk pelayanan itu sambil melakukan analisa karunia rohani dan kepribadian.
4. Dukung mereka dengan job description dan wewenang yang jelas.
5. Pemimpin gereja harus memberikan kesempatan kalau mereka gagal, sambil terus mendorong dan memberi semangat kepada mereka.
Beberapa nasehat praktis untuk kaum awam yang terlibat pelayanan:
1. Hapuslah perkataan, “Tidak bisa” dalam pikiran Sdr. Allah akan memberi kemampuan, asal kita mau. Filipi 4:13.
2. Setialah dengan perkara kecil dan Allah akan memberikan tanggung jawab untuk perkara-perkara yang besar (Mat. 25:21). Contoh: Sama (II Sam. 23:12).
3. Belajarlah terus untuk meningkatkan pelayanan Sdr. Jangan putus asa, dan juga jangan cepat puas dengan apa yang telah Sdr. capai.
4. Jaga keseimbangan antara “melayani pekerjaan Tuhan” dan “melayani Tuhan” (Luk. 10:39-42: Maria dan Marta).
5. Miliki selalu motivasi pelayanan yang benar yaitu kasih (II Kor. 5:14-15). Ini menyebabkan orang melayani dengan rela dan sukacita. Cirinya: tidak menghitung untung rugi, tidak menonjolkan diri, tidak mencari kuasa untuk diri sendiri. Pelayan juga harus “terbeban”, ada belas kasihan ilahi seperti Yesus (Mat. 9:36). Bila pelayanan kita tulus, maka Tuhan akan memberikan upah/pahala di Sorga kepada kita (I Kor. 3:10-15).
6. Andalkan selalu kuasa Roh Kudus, bukan kekuatan daging (Kis. 1:8).


