Ditulis oleh Raymond Nelson Kamis, 08 April 2010 01:27
4. Ajaran tentang pribadi Yudas Iskariot
Kitab-kitab Injil Kanonik melihat Yudas Iskariot sebagai pengkhianat hina karena menyerahkan Yesus kepada pemerintahan Romawi yang kemudian menyalibkannya. Namun IY justru mempunyai pandangan positif tentang pribadi Yudas Iskariot. Menurut IY, Yudas adalah satu-satunya murid yang diberi pewahyuan rahasia tentang siapa sesungguhnya Yesus, karena dia satu-satunya dari keduabelas murid yang memiliki percikan api ilahi. Para murid Yesus lainnya justru tidak mengerti Injil yang benar. Dalam IY dicatat, "Kisah rahasia mengenai pewahyuan yang diucapkan oleh Yesus dalam pembicaraannya dengan Yudas Iskariot selama seminggu, tiga hari sebelum dia merayakan Paskah" Murid-murid lain menyembah Allah PL, bukan Allah yang Benar, dan karenanya mereka tiada lain adalah "para pelayan kesesatan". Mereka akan menolak Yudas, seperti yang Yudas lihat dalam penglihatannya bahwa murid-murid yang lain itu merajamnya dengan batu sampai mati. Namun Yudas akan diselamatkan, kendati dia akan banyak berduka karena penolakan itu. IY mencatat, "Yesus menjawab dan bersabda, "Kau akan menjadi yang ketigabelas, dan kau akan dikutuk oleh generasi-generasi lain - dan kau akan datang untuk menguasai mereka. Pada akhir zaman mereka akan mengutuk kenaikanmu [47] ke [generasi] yang kudus." Menurut kaum gnostik, pada akhirnya semua orang akan menanggalkan segala sesuatu yang fana untuk membebaskan jati diri rohani yang ada dalam diri mereka, dan jiwa mereka menjadi bebas. Dalam IY ada pengorbanan yang dituntut oleh Yesus dari muridnya yang paling memahami dirinya. Yesus meminta agar Yudas Iskariot membantu Dia untuk membebaskan diri dari tubuhnya yang fana, dengan jalan menyerahkan Yesus kepada penguasa dunia. Yesus berkata kepada Yudas, "Engkau akan lebih besar daripada mereka semua; karena engkau akan mengorbankan wujud manusia yang meragai diriku." (56). Yudas tidak bisa tidak melakukan apa yang diminta oleh Yesus, maka dia "mengkhianati" Yesus. Jadi Yudas sebetulnya adalah pahlawan yang disalahmengerti oleh yang lain. Dia menyerahkan Yesus justru sebagai wujud ketaatannya kepada perintah Yesus dan bukan sebagai pengkhianatan. Inilah "kabar gembira" yang diwartakan oleh Injil Yudas.


