Gereja Bethel Indonesia

Program BPH Bukan Sekadar Ide Cemerlang Tetapi Harus Direalisasikan

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

DSCN1578Program kerja Badan Pekerja Harian Gereja Bethel Indonesia (BPH GBI) ke depan difokuskan pada 5 pilar. Yaitu (1) Organisasi dan Kepemimpinan; (2) Teologi dan Pendidikan; (3) Pekabaran Injil dan Misi; (4) Pembinaan Keluarga dan Generasi Muda; (5) Pemberdayaan Masyarakat. Kelima Pilar tersebut merupakan keputusan dari badan tertinggi Gereja Bethel Indonesia yaitu pada Sidang Sinode Raya GBI XIV yang berlangsung di Senayan Oktober 2008 silam dengan Ketua Umum BPH GBI terpilih, Pdt. DR. Jacob Nahuway, MA. Untuk menjalankan 5 pilar program BPH GBI tersebut, Pdt. Jacob selaku Ketum memberikan pandangannya mengenai strategi untuk mencapai sasaran dan hasil yang maksimal.

Dalam penjabarannya Pdt. Jacob menekankan bahwa 5 pilar program tersebut bisa berjalan atau tidak, tergantung bagaimana kita merealisasikannya. Untuk itulah MPL dan Rakernas didahulukan dengan tujuan supaya bisa mensosialisasikan 5 program tersebut kepada BPD GBI yang merupakan kepanjangan tangan Sinode GBI. Sehingga diharapkan mereka menjabarkannya kepada para pejabat dan jemaat, supaya program tersebut tidak sekadar ide-ide cemerlang saja, tetapi program yang diwujudkan menjadi kenyataan.

Untuk melaksanakan 5 pilar tersebut tentunya tergantung dari sarana dan prasarana serta kemampuan yang ada baik dari BPH, BPD maupun jemaat-jemaat lokal di seluruh dunia. Sebagai contoh, Sinode GBI telah mengadopsi suatu desa namanya Desa Seko di Kalimantan Selatan, itulah yang menjadi anak kita sehingga GBI memikirkan apa yang harus dilakukan untuk daerah itu. Misalnya gereja-gereja yang sudah ada diperbaiki gedungnya, memberikan pengarahan/penataran kepada pendeta di sana supaya gereja itu maju secara fisik maupun juga secara rohani, juga membangun sarana-sarana umum seperti jalan. Kemudian, bagaimana memikirkan supaya penduduk di sana bisa menjual hasil buminya sehingga dapat menghidupi dan mensejahterahkan mereka. 


  • Pemberdayaan Masyarakat

Melalui Badan Pekerja Daerah (BPD) yang ada maka pemberdayaan masyarakat bisa dijangkau. Untuk itulah kita memanggil mereka dan membagi beban visi sehingga mereka pulang bukan seperti pendeta yang ikut penataran tetapi lebih dari pada itu dimana mereka bisa membawa visi ke daerah masing-masing. BPH GBI mempunyai departemen-departemen dan badan-badan bentukan yang menangani sesuai dengan bidangnya masing-masing, untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan yang merupakan visi dan misi GBI itu sendiri.

Sedangkan untuk mencapai visi dan misi tersebut dibutuhkan anggaran/dana. Adapun anggaran-anggaran tersebut diperoleh dari perpuluhan jemaat lokal, iuran pendeta, persembahan kasih, dan ada juga aksi yang dilakukan oleh BPH untuk mencari dana yang tidak bertentangan dengan Alkitab, Tata Gereja GBI maupun Peraturan Pemerintah. Pencarian dana bisa juga melalui pembentukan panitia khusus/fund rising atau panitia pencari dana.


  • Himbauan Ketua Umum Sinode GBI Kepada Para Pejabat Daerah

Biarlah ketua-ketua BPD dan juga anggota MPL yang telah datang ke Sidang Sinode Raya GBI 2008 lalu, menerima penjabaran dari keputusan Sinode dan pulang ke daerahnya bisa mewujudkan atau menjabarkan kembali di daerahnya masing-masing, supaya hal ini tidak hanya sebagai keputusan tetapi juga direalisasikan. Misalnya, bagaimana seharusnya model Kop Surat, bagaimana mengangangkat majelis dan memberhentikan mereka. Hal-hal seperti itulah kadangkala harus mendapat bimbingan, sehingga ketua-ketua BPD dan anggota-anggota yang sudah berkumpul saat tiba di daerahnya, tidak hanya berdiam saja tetapi adakan rapat atau sidang kecil supaya bisa mewujudkan program yang telah ada.


  • Tanggapan Pemilu 2009 (Khusus Partai-partai Kristen) 

Untuk menghadapi Pemilu 2009 pada bulan April maka kita sebagai warga negara Indonesia diperhadapkan dengan berbagai pilihan untuk memberikan hak suara kita dalam penentuan pemimpin bangsa kita. Selain itu kita sebagai umat Tuhan dalam menyikapi dan memilih membutuhkan hikmat dari Tuhan. Pada dasarnya semua partai bertujuan baik. Mereka selalu bersuara memberikan iklan bahwa mereka adalah partai nasional berwawasan kebangsaan tetapi kenyataannya, kalau boleh bukan hanya sebatas keputusan-keputusan atau ide-ide tetapi betul-betul diwujudkan, bahwa negara ini adalah negara kebangsaan, negara ini adalah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Jadi, apapun partainya asalkan itu membimbing, mengarahkan dan menuju kepada kesatuan, bukan memecah-belahkannya. Di tengah kemajemukan negara kita tetapi kita tetap satu bangsa dan satu tanah air yang berdasarkan UUD ’45 dan Pancasila. Dan Indonesia bukanlah negara Agama. Jadi, apapun yang menentang Pancasila dan UUD ’45 harus ditentang, karena ABRI dan POLRI mempunyai Sapta Marga, mengatakan bahwa mereka mendukung sepenuhnya Pancasila dan UUD’45 sebagai harga mati. Untuk itu, segala keputusan mau dibuat dimanapun, baik di bawah pohon atau dalam gedung DPR-RI, sesuatu yang bertentangan dengan Pancasila ABRI harus bertindak langsung untuk menentangnya dan Presiden sebagai Panglima Tertinggi dari ABRI adalah tugasnya untuk melarang ini. Harus berani interupsi dan mengatakan tidak boleh. Tetapi kenyataannya di lapangan, banyak para pemimpin kita tidak berwawasan kebangsaan tetapi berwawasan agamais. 

Jadi himbauannya adalah pilihlah partai yang pemimpinnya berwawasan kebangsaan dan partai yang memperjuangkan NKRI serta memperjuangkan kepentingan umat Kristen pada khususnya yang bergumul di tengah-tengah bangsa ini. Jadi kita tidak mendukung satu partai saja tetapi semua yang mendukung kesatuan dan keadilan negara ini untuk mencapai keadilan sosial dan kemakmuran bagi bangsa Indonesia.