Gereja Bethel Indonesia

IMPARTASIKAN KASIH ALLAH PADA SESAMA

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

jacob-nahuwayMengasihi Allah dan sesama merupakan Hukum Tuhan yang besar dan terutama : Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Mat.22:37-40).

Apapun yang Tuhan firmankan berguna bagi manusia dalam hidup sekarang yang sementara, maupun dalam hidup yang kekal nanti. Karena Allah itu baik, tidak ada suatupun rancanganNya yang jahat dan mencelakakan manusia : “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. (Yer.29:11). Bahkan masalah apapun yang menerpa kita, Allah dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang baik demi kebaikan kita. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”. (Rm.8:28)

Pemazmur berkata : “Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripadaNyalah keselamatanku” (Mzm.62:2). Itu berarti rasa aman kita tidak terletak pada suasana dan situasi di sekitar kita. Dengan kata lain, kita merasa aman bukan berarti tidak ada masalah tetapi ada Allah. Kepribadian Allah adalah jaminan rasa aman kita. Ia Maha Tahu, Maha Hadir, Maha Baik, dan Maha Kuasa. KuasaNya menyelamatkan, membentengi dan melindungi kita (Mzm.62:1-2). KebaikanNya dan anugerahNya memberi semangat, menuntun dan menguasai hidup kita (Mzm.34:9). KeadilanNya memberikan kepastian dan menciptakan rasa aman bagi setiap orang yang berharap kepadaNya (Mzm.145:17).

Pengenalan akan kuasa dan kebaikan serta kasih Allah merupakan dasar bagi kita untuk mengasihi dan mengimpartasikan kasih Allah bagi sesama. Karena adalah mustahil jika kita mengasihi sesama tanpa terlebih dahulu kita mengenal dan mengasihi Allah. Ada beberapa hal yang digambarkan Alkitab, mengapa kita harus mengasihi dan mengimpartasikan kasih Allah bagi sesama kita.

Pertama, untuk mendapatkan pola. Untuk berhasil dalam kehidupan ini, kita memerlukan pola, yaitu orang-orang yang kita jadikan teladan dan panutan. Adakah orang yang anda kenal, membuat anda maju, bersemangat, lebih pintar, lebih berhasil, lebih bahagia, temui orang itu. Adakan waktu untuk belajar dari dia dan jadikan jalan hidupnya pola untuk keberhasilan anda. Jika kita mau berhasil, kita harus berada di antara orang-orang yang berhasil. Setiap orang ibarat buku yang dapat dibaca. Kita dapat melihat dan mengamati mereka. Dengan segera kita dapat tahu siapa mereka. Apakah mereka orang yang berhasil atau gagal? Sedang menganggur atau rajin bekerja? Apakah mereka adalah orang-orang yang dapat mewujudkan impiannya atau menunggu orang lain datang untuk mewujudkan mimpi mereka. Yang kita perlukan adalah orang-orang yang lebih berhasil, lebih pintar dan lebih dari posisi kita. Maksudnya supaya mereka dapat mendorong kita untuk maju. Orang-orang yang maju dan berhasil itu memperkaya diri dengan pola-pola keberhasilan. Mereka mengikuti seminar, membaca buku-buku bermutu dan berkonsultasi dengan orang-orang yang lebih maju dan berhasil dari mereka. Orang-orang seperti ini perlu kita jadikan sahabat dan mengimpartasikan kasih Allah kepada mereka, karena hidup mereka dapat kita jadikan pola keberhasilan.

Kedua, perintah Tuhan. Perintah Tuhan yang terbesar adalah mengasihi Allah dan yang kedua adalah mengasihi sesama : "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Mat.22:37-40). Kita tidak dapat mengimpartasikan kasih Allah kepada sesama tanpa kita terlebih dahulu mengalami kasih Tuhan secara pribadi. Jika tidak maka kita ibarat orang buta menuntun orang buta, maka keduanya akan tersesat. Jika kita mengimpartasikan kasih Allah pada sesama, maka kita sedang melakukan perintah Tuhan dan jika kita melakukan perintah Tuhan, maka kasih Bapa akan berada dalam diri orang tersebut. : “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." (Yoh.14:21). Jika kasih Bapa berada dalam kita, maka berkat akan mencari kita dan bukan kita yang mencari berkat. Apa yang dicari oleh orang yang tidak mengenal Tuhan lalu menjadi gampang dan mudah bagi kita. “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur” (Mzm.127:2).

Ketiga, kesaksian bagi dunia luar. Jika kita mengimpartasikan kasih kita kepada sesama, maka itu adalah suatu kesaksian bagi dunia luar. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh.13:34-35). Mengasihi tidak boleh hanya dalam kata-kata tetapi dalam tindakan nyata (1 Yoh.3:18). Mengasihi tidak boleh dengan pura-pura (Rm.12:9) dan tidak boleh melihat rupa dan warna kulit (Yoh.2:9). Kasih semacam inilah yang bersuara lebih keras daripada suatu khotbah yang disertai pengeras suara.

Keempat, ibadah. Mengimpartasikan kasih kepada sesama adalah ibadah kepada Tuhan. Ibadah bukan saja membawa Alkitab, buku nyanyian serta buku catatan menuju gereja, tetapi ibadah yang sesungguhnya adalah membawa sembako dan keperluan bahan makanan menuju gedung panti asuhan dan rumah jompo tempat penampungan anak-anak yatim piatu dan para janda. “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yak.1:27).