Kenali dan Hindari HIV & AIDS - Persentase Komulatif AIDS
Ditulis oleh prambudi Rabu, 31 Agustus 2011 13:27
| Indeks Artikel |
|---|
| Kenali dan Hindari HIV & AIDS |
| Persentase Komulatif AIDS |
| Kasus Narkoba |
| Seluruh halaman |
Dr. Kamboji menjelaskan secara ringkas asal muasal HIV yang tidak diketahui dari mana dan kapan muncul pertama kali secara pasti. Namun, tahun 1969 diketemukan kasus penderita yang terinfeksi HIV di Amerika. Kasus selanjutnya terjadi di sub Sahara (Afrika) pada akhir tahun 1970-an.
Korban yang terinfeksi HIV terus berjatuhan, dalam durasi setiap 15 detik. Bayi terlahir dalam kondisi yang sama berjumlah 1.800 per hari. Ia memperkirakan, kasus penderita HIV di Indonesia berjumlah sekitar 200.000 – 300.000 penderita.
Guna melengkapi presentasinya, Dr. Kamboji menyajikan data persentase komulatif kasus ini, berdasarkan cara penularan sebagai berikut : penasun (jarum suntik) pengguna narkoba 40.4%; heteroseks mencapai 49.3%; LSL (laki-laki suka laki-laki) sejumlah 3,3%; sang ibu kepada janin (bakal bayi, Red) berjumlah 2,7%; transfusi darah 0,1%; tidak diketahui berjumlah 4,3%.
Dari data-data yang ia miliki, pemicu epidemi HIV adalah sekitar 3,1 juta laki-laki suka “membeli” seks (2-20% dari pria dewasa); 700.000 laki-laki suka laki-laki (gay/waria). Sementara itu, sekitar 1,6 juta wanita diperkirakan menikah dengan laki-laki beresiko tinggi tersebut. “Akibatnya, mereka melahirkan anak-anak yang tertular HIV. Selain itu, para laki-laki yang beresiko tinggi tersebut berhubungan dengan pasangan resmi (istri) dan melahirkan anak-anak yang terpapar (tertular, Red) HIV,” ujarnya.
Menyikapi kondisi seperti itu, ia memberikan saran agar hal tersebut bisa dicegah dengan cara penyebaran informasi tentang resiko HIV melalui jalur pendidikan dan memberikan pengetahuan secara tepat guna kepada masyarakat.Dr. Kamboji menginformasikan jalur penularan HIV melalui sarana penasun (pena suntik/jarum suntik), hubungan seks berganti-ganti pasangan, kurang info, kemiskinan, perilaku beresiko di kalangan kaum muda, penularan dari orang tua (ibu) ke anak dan keterbatasan akses untuk mendukung perawatan dan pengobatan penderita.
Lebih lanjut soal HIV/ AIDS, ia memberikan definisi tentang kedua hal tersebut. HIV adalah singkatan dari Human Immuno Deficiency Virus. Virus ini menurunkan kekebalan tubuh, kebal terhadap obat, dan berkembang biak.
Sementara itu, AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. Acquired (didapat bukan dari keturunan), Immune (sistem kekebalan tubuh), Deficiency (kekurangan), Syndrome (kumpulan berbagai gejala). Jika AIDS diterjemahkan secara bebas, maka itu berarti kumpulan berbagai gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus HIV. “Jadi seorang penderita akan mudah terkena sariawan, TBC, diare, sakit kulit, kanker, dan lain-lain,” ujarnya.
HIV bisa ditemukan “berenang” di cairan vagina, cairan mani, darah. Sebaliknya, HIV tidak ada pada keringat, air mata, dan ASI (Air Susu Ibu). Media penularan yakni melalui darah, jarum suntik (narkoba), alat-alat suntik yang bergantian, kehamilan, proses melahirkan, dan proses menyusui.
Soal obat-obat untuk penderita AIDS ini, saat ini sudah ada. Tetapi, ia mengingatkan bahwa obat tersebut harus diminum rutin dan tepat waktu (on time). “Jika tidak, maka virus HIV akan menjadi kebal terhadap obat dan orang tersebut harus berganti obat,” ujarnya.
Dengan nada bertanya, ia melontarkan kalimat “siapa yang beresiko terinfeksi HIV ini ?”. Menurutnya ialah tergantung kepada perilaku masing-masing. Perjalanan virus HIV cukup lama yaitu pada masa 5-10 tahun pertama, penderita tampak sehat. Setelah itu, 2-5 tahun kemudian, gejala AIDS mulai tampak.
Untuk mengetahui positif atau negatif virus HIV pada darah seseorang, ia bisa melakukan tes (uji) anti bodi di Klinik VCT.Dr. Kamboji menambahkan, jika hasil tes menyentuh angka 350 pada kekebalan tubuh per cc darah, maka orang tersebut harus meminum obat anti HIV secara konsisten (pada jam yang sama). Jika lewat jam tersebut, maka virus akan menjadi kebal dan harus ganti obat. Ia menyarankan sebelum seseorang melakukan hal diatas, sebaiknya ia melakukan konseling terlebih dahulu dengan petugas medis yang berwenang menangani masalah ini.
Gejala-gejala stadium klinis penderita AIDS yaitu demam lebih dari 3 bulan, diare kronis lebih dari 1 bulan, penurunan berat badan lebih dari 10% per 3 bulan, Ia juga menekankan agar seseorang waspada jika terdapat satu dari lima gejala minor yakni batuk kronis lebih dari 1 bulan, infeksi mulut dan tenggorokan, jamur (candida), bengkak akibat kelenjar bening, herpes dan bercak-bercak pada kulit.
Dengan nada prihatin, ia mengatakan bahwa penderita AIDS (ODHA) sering mendapatkan diskriminasi dan isolasi dari keluarga dan masyarakat. Langkah “jitu” agar terhindar dari penyakit ini, menurutnya seseorang harus berlaku setia dengan pasangannya, “absen” melakukan hubungan seks bagi mereka yang belum menikah.


