Gereja Bethel Indonesia

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Kami suami istri sebelumnya bukan orang kristen, tetapi agama lain, orang tua kami adalah orang yang tekun dalam agamanya, dan boleh dikatakan fanatik, dan kami juga diajarkan harus patuh dan setia kepada agama yang kami anut. Kami ada beberapa keluarga yang seagama di daerah itu, tetap berusaha tekun dan mempertahankan agama kami dan setia sembahyang dan menuruti perintah agama, sehingga semasa gadis sudah menjadi tekad saya dan tidak pernah bercita-cita pindah agama apapun yang terjadi. Apalagi didesa saya itu, saya didatangi banyak pemuda.

Kami tinggal di desa yang bernama Kuluk Gohong, dipedalaman Kalimantan Tengah. Suatu hari saya dilamar seseorang yang bukan seagama dengan saya, tetapi yang agamanya menghormati alam, arwah-arwah dan benda-benda alam. Orangnya polos dan tidak kaya, tetapi hatinya baik dan pekerjaannya memantat (menyadap karet) milik orang lain (dengan cara bagi hasil). Memang orang tuanya miskin dan bukan beragama kristen.

 

Pada waktu si pemuda ini menyatakan cintanya dan kata-kata lamaran dengan polos dan dia bersedia mengikuti agama saya. Kamipun melangsungkan perkawinan. Selama perkawinan kami, ia (suami) tekun bekerja, walau dengan jalan kaki, dan ia berusaha menghidupi kami dengan seorang anak, pagi menyadap karet, sore pulang.kesaksian-Mama Molen


Suatu ketika tahun 2005, saya sakit keras di bagian dada (payudara) sebelah kiri dan apabila kambuh sangat tidak tertahankan dan saya selalu pingsan olehnya, boleh dikatakan sangat menderita dan kami tidak lagi bahagia kehidupannya.

Karena semakin hari badan makin kurus dan selalu kambuh-kambuh. Kami pergi periksa ke dokter dan kata dokter itu bahwa penyakit saya adalah kanker payudara. Akibatnya saya semakin takut dan hilang nafsu makan. Orang tua saya berusaha untuk mencari obat, dengan memanggil dukun-dukun merebus akar-akar, walaupun membayar mahal, dengan emas, ayam hidup dan macam-macam permintaan, lain dukun lain pula permintaan dan manteranya, doa-doa pemuka agama dan adat, tetap tidak ada kesembuhan.

Ada seorang orang tua yang kami sebut bue (kakek), dikala menjenguk saya berkata, bagaimana kalau kamu coba mendengar siaran radio dari Palangka Raya Paket Acara Suara Kasih, karena banyak orang disembuhkan melalui radio itu. Aku dan bapak serta suami bingung maksud bue tersebut. Dia melanjutkan perkataannya setiap hari sabtu pukul 16.30 wib.

Saya dan bapak serta suami menyetel gelombang radio Palangka Raya tersebut, terdengarlah suara, seorang laki-laki yang memperkenalkan dirinya Pdt. Drs. P. L. Sinaga, dan berkata Suara Kasih, Dialah yang bernama Yesus Kristus yang bersuara penuh kasih, dan dapat menjadikan yang tidak ada menjadi ada, yang tidak mungkin menjadi mungkin, menyembuhkan dan menyelamatkan, dan perkataan itu disambung dengan Firman Tuhan yang tegas dengan kata-kata berwibawa dengan menarik dan dapat dimengerti. Yang saya ingat ialah orang lumpuh 38 tahun ditepi kolam, Yesus berkata pergilah angkatlah tilammu dan ia sembuh.

 

Saudara, bapak, ibu pembaca !

Dikala pendeta itu berbicara dari radio itu dengan menyampaikan khotbah yang semangat dan memotivasi pendengar pendeta itu berkata Tuhan Yesus dengan kasihNya menemui orang lumpuh yang dilupakan orang, yang tidak ada lagi orang yang dapat membantu dia untuk memasukkan ke kolam agar sembuh, perhatikan kata beliau, betapa sedihnya kehidupan sakit kepahitan, tidak ada yang menjagai, tidak ada yang menolong, tidak ada yang menyapa, mungkin orang bosan sehingga membiarkannya tidak ada yang menghibur, tetapi Dia Yesus datang menemui si sakit itu, tanpa diundang tapi Dia datang, Dia adalah Tuhan dan melihat semua ciptaanNya (Maz 33:13-44) Yesus mengasihi, Yesus mau menolong, Yesus mau menyembuhkan memberkati, Dia mau datang, perkataan ini berulang dan lantang) membuat hati saya iba, gemetar, dan waktu mendengar khotbah tersebut dan merasa iba dan teringat kepada orang lumpuh yang terbaring ditempat tidur dan air mata menetes tidak terasa, sungguh waktu mendengar khotbah itu dan akhirnya bapak Pendeta dari kotak radio itu berkata siapapun engkau yang sakit dan percaya Yesus Kristus adalah Tuhan dan menerima Dia pasti disembuhkan.

Ketika pembicara itu (pendeta) itu berkata, siapa yang sakit, lumpuh, kanker dan sakit lainnya, angkat tangan ikuti doa ini. sayapun mengikuti dan seketika itu saya sembuh dan selanjutnya ia berkata cari hamba Tuhan yang Tuhan utus untuk konseling.

Saya sudah sembuh dan tidak lagi mendengar radio tersebut, tapi suatu ketika pendeta yang di radio itu datang berkunjung ke dekat desa kami, dan bue tadi memberi tahu. Dan kamipun bersama bapak dan suami pergi kesana untuk di doakan dan mama dan bapak saya berkata apabila sembuh oleh pendeta itu biarlah kalian masuk kristen ikut Tuhan Yesus.

Saya didoakan pelepasan bersama dengan seorang pendeta bernama Bpk.Ruji.D.Nahan dan sayapun merasa sembuh total dan kami coba-coba datang ke gerejanya pak Ruji tersebut, tapi dalam hatiku aku tidak mau Kristen aku mau sembuhnya dan minggu berikutnya penyakit saya kambuh saya kembali pingsan dan dan tidak sadarkan diri, bapak saya dan suami memanggil bapak pendeta Ruji tersebut dan kembali saya sembuh dan sayapun mengambil tekad biarlah kami menjadi Kristen yang berkomitmen dan juga bapak saya mendukung agar kami ikut Yesus Kristus saja.

Waktu kami belun didoakan, pendeta dan bapak Ruji tersebut bertanya tentang jimat-jimat, sahabat-sahabat roh-roh, percaya kepada jin-jin dan dosa-dosa keturunan, katanya harus diputuskan, dan kami mengakui semua yang pernah kami lakukan. Tetapi anehnya belum kami katakan, pendeta sudah lebih dahulu memberitahukan, jadi tidak dapat dibohongi. Semua jimat-jimat dan penjaga-penjaga rumah dari dukun-dukun itu kemudian dibakar habis oleh pendeta tersebut, tidak tersisa lagi. Setelah doa dan pemutusan tersebut kami merasa enak, nyaman penuh sukacita, tidak ada lagi beban, rasa takutpun hilang, semangat sebagai suami istri. Pendeta berkata dan membaca Roma 9 : 14-16, dan menjelaskan dengan baik kepada kami, dan kamipun memberi diri untuk dibaptis selam di sungai.

Dan ternyata setelah kami dilayani konseling dan setia ke Gereja Bethel Indonesia yang digembalakan oleh Pdt. Ruji.D.Nahan tersebut dan yang dibina oleh Pdt. Drs. P. L. Sinaga, penyakit saya tidak pernah kambuh lagi dan tetangga kami heran melihatnya. Kamipun rajin bersaksi dan mengambil bagian dalam pelayanan geraja. Suami saya menjadi tukang sukarela dalam pembangunan gereja dan bersih-bersih gereja.

Yang lebih indah dan mengherankan lagi; kami adalah orang miskin dan tinggal di gubuk kecil disamping rumah orang tua saya. Hidup pas-pasan, tidur di atas tikar, makan seadanya, lampu templok. Tetapi suatu sore malam, datang seorang yang bukan kristen empunya kebun karet, dan ia berkata besok perlu uang Rp. 1.500.000,- dan sebagai jaminannya adalah kami boleh menyadap getah dari kebun karet seluas satu lembar (± 1.000 pohon karet). Kami boleh mengambil getah karet selama 1(satu) tahun untuk kami sendiri, kamipun setuju, dan memberikan pinjaman teresebut.

Puji Tuhan, getah karet sangat melimpah, selama 1 (satu) Tahun kami menyadap karet tersebut, kami sangat diberkati. Kami bisa membeli rumah, generator listrik, mesin sinso dan 2 (dua) lembar kebun karet yang pohon karetnya siap untuk disadap.

Kami sangat diberkati setelah mengikuti Tuhan Yesus, kami sekeluarga sehat-sehat dan kami semakin takut akan Tuhan Yesus dan setia mendengarkan Firman Tuhan, rajin ke gereja dan menyisihkan persepuluhan diberikan kepada Tuhan melalui gereja-Nya. Saat kami menjadi anggota Gereja Bethel Indonesia Barigas Tumbang Bunut dan selalu ambil bagian dalam pelayanan.

Terimalah yang pasti kita diberkati serta diberi damai sejahtera. Amen. Pembaca doakan kami agar kami tetap kuat di dalam iman dan pengharapan kami dan kami ada dalam kerajaan-Nya.

Keluarga Bapak dan Mama Molen

Kalimantan Tengah

Comments  

 
0 #1 Pdp.G.simanungkalit 2011-12-29 13:36
Shalom keluarga Bapak/ibu Molen aku berdoa agar engkau tetap kuat mengerjakan keselamatanmu dan Tuhan kasih firmanNYA di dalam Yer 29 :11
Quote
 

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh