Gereja Bethel Indonesia

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

L
iuba Ganevskaya telah berkali-kali dipukuli di dalam penjara Rusia. Tapi ketika dia menatap algojonya, sedang memegang cambuk dibelakangnya, dia tersenyum.

"Mengapa kamu tersenyum?" algojo bertanya sambil tercengang.

"Aku tidak melihatmu seperti sebuah cermin yang mereflesikan dirimu saat ini" jawabnya. "Aku melihatmu sebagaimana kamu dulunya, anak kecil yang tampan dan tanpa dosa. Kita seumur, kita bisa saja menjadi teman bermain dulunya." Sambungnya.

Allah telah membuka mata Liuba sehingga ia dapat melihat itu dengan cara pandang yang berbeda. Dia melihat kelelahannya; dia capek mencambuki sebagaimana Liuba capek menerima cambukan. Dia merasa putus asa karena tidak berhasil membuatnya bicara mengenai kegiatan orang-orang percaya lainnya.

Dia begitu mirip engkau, kata Tuhan dalam hati Liuba. "Kalian bedua sama-sama terjebak dalam drama kehidupan, kamu dan algojomu sama-sama merasa ketakutan.

Aku ini TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan.... untuk membuka mata yang buta. (Yesaya 42: 6-7)

Dengan melihat pria itu dari mata Allah, sikap Liuba menjadi berubah. Dia terus berbicara kepadanya. "Aku juga melihat kamu seperti yang aku harapkan kamu nantinya. Pernah ada seorang penganiaya yang lebih kejam dari kamu. Saulus dari Tarsus dan dia menjadi seorang rasul dan orang suci". Dia bertanya kepada pria yang nampak tenang itu beban apakah yang menidihnya sehingga dia melampiaskannya dengan menganiaya mereka yang tidak bersalah terhadapnya.

Dengan perhatiannya yang penuh kasih, Liuba berhasil membawa algojonya ke dalam Kerajaan Kristus.

"Penglihatan jasmani seringkali terganggu oleh berbagai penyakit: astigmatisme, rabun dekat, glaukoma dan lainnya. Sama seperti mata jasmani yang dapat dibantu dengan lensa kacamata, mata hati kita dapat juga dibantu oleh intervensi ilahi. Dengan kekuatan kita sendiri kita hanya dapat melihat kejelekkan orang lain dan bukan kebaikannya. Tapi Allah menjanjikan penglihatan spiritual kepada mereka yang mau melihat kehidupan dengan perspektif surgawi. Kita dapat melihat dibalik topeng pemberontakan anak remaja, seorang anak yang merindukan penerimaan. Apakah engkau melihat orang lain dengan kacamata surgawi? Apakah perbedaan yang dibuat mata rohani dalam hidup anda?"

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh