Ditulis oleh Oleh : Pdt. Dr. Frans Pantan Selasa, 21 Juli 2009 11:41
c. Kepemimpinan yang Berintegritas
Kepemimpinan yang dijalankan dengan kejujuran atau ketulusan hati bukan saja diperkenan oleh Allah tetapi juga dapat meningkatkan gairah kerja sang pemimpin. Di samping itu dapat meningkatkan kepercayaan orang terhadap kepemimpinannya. Alkitab memberikan keterangan yang cukup jelas mengenai integritas seorang pemimpin, yaitu: Keluaran 18:21, disebutkan bahwa orang yang harus dipilih untuk menjadi pemimpin umat Israel adalah orang yang memiliki: (1) Integritas diri (hubungan dengan diri, dan bagaimana memandang diri)-cakap, yaitu menyangkut keberadaan/kemampuan/kematangan individu. (2) Integritas rohani (hubungan pribadi dengan Allah)-takut akan Allah, komitmen dengan Allah. (3) Integritas sosial (integritas pribadi/moral/sosial dalam hubungan dengan orang lain) – dapat dipercaya. (4) Integritas ekonomi (hubungan dengan uang/benda, kebutuhan versus tanggung jawab) – benci pengejaran suap. (5) Integritas kerja (hubungan dengan pekerjaan yang dipercayakan kepada pemimpin). Dalam 1 Timotius 3:1-13, Paulus memberikan kriteria bagi seorang pemimpin rohani, meliputi klasifikasi: (1) Sosial: tidak bercatat, mempunyai nama baik di luar jemaat, orang terhormat. (2) Moral: suami dari satu istri, dapat menahan diri, bukan peminum/penggemar anggur. (3) Mental: bijaksana, sopan, cakap mengajar. (4) Kepribadian: bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, suka memberi tumpangan, bukan hamba uang/serakah, jangan bercabang lidah dan suka memfitnah, hati nuraninya murni, dapat dipercaya. (5) Rumah tangga: kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. (6) Kedewasaan: bukan orang yang baru bertobat, harus diuji dulu.


