Gereja Bethel Indonesia

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 1
JelekBagus 
Indeks Artikel
KEPEMIMPINAN YANG MEMBERI NILAI TINGGI
Karakteristik Kepemimpinan
Kepemimpinan yang Mengimplementasikan Pikiran dan Perasaan Kristus
Kepemimpinan yang Bermental Kerajaan Allah
Kepemimpinan yang Berintegritas
Kepemimpinan yang inspiratif
Kepemimpinan yang Berbasis Kebutuhan
Kepemimpinan yang Bisa Mendesain Masa Depan dengan Jelas
Seluruh halaman

Menurut logika saya, salah satu makna pesan penting yang perlu dikedepankan dari tema ini adalah agar “penuai” (pemimpin, gembala, penginjil, guru agama Kristen = pejabat GBI) memiliki kemampuan (rohani, intelektual dan keterampilan teknis) untuk melakukan tugas penuaian di tengah-tengah ladang yang sudah meguning bagi percepatan perwujudan pembangunan Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Di antara sekian banyak kemampuan itu, salah satu di antaranya yang dibutuhkan adalah potensi “kepemimpinan”. Tetapi kemudian bisa dimunculkan pertanyaan “kepemimpinan yang seperti apa”? Ada banyak, tetapi yang saya mau tulis kali ini adalah “Kepemimpinan Yang Memberi Nilai Tinggi”.

Pdt._Frans-Pantan
1.
Dasar Berpikir

Salah satu yang baik diciptakan Tuhan dalam diri manusia adalah kemampuan atau potensi yang unggul jika dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Karena itu, dari manusia (khususnya kita para pemimpin GBI) Allah menghendaki agar potensi atau kemampuan itu dimaksimalkan dalam keseluruhan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan kita di dalam mengelola dan mengembangkan pekerjaan-Nya melalui wadah organisasi GBI. Bukankah Alkitab dengan jelas telah mengatakan bahwa apa pun yang kita kerjakan sebagai wujud konkrit kasih kita kepada Allah harus dalam kondisi “dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan” (bnd. Ulangan 6:5).

Berdasarkan Ulangan 6:5 itu, apabila dikaitkan dengan tugas kepemimpinan kita maka tampak dengan jelas bahwa Allah menghendaki karya terbaik, pelayanan terbaik (nilai tinggi) dari kita dan Dia memang layak untuk itu. Karena itu, ketika kita hidup tidak maksimal, bekerja asal jadi, melayani asal saja, maka kita bisa diposisikan sama seperti seorang hamba yang menerima satu talenta yang tidak mengembangkan talenta itu sehingga dikecam oleh tuannya sebagai hamba yang jahat, malas dan akhirnya layaknya dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap (Mat. 25:26, 30). Saya mengerti bahwa yang dipersoalkan oleh sang tuan atas hambanya itu bukan soal angka 5, angka 2, dan angka 1 melainkan masalah penghargaan dan pemaksimalan talenta atau kemampuan yang dipercayakannya kepada hambanya. Nah, saya berharap semua rekan pejabat GBI tertantang untuk memaksimalkan kemampuan yang telah Tuhan percayakan kepada kita masing-masing untuk Kerajaan Allah.


Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh