Ditulis oleh prambudi Rabu, 23 November 2011 13:19
Di banyak tempat tidak ada kesempatan untuk memberitakan Injil. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Demikian Pdt. Jacob Nahuway Ketua Umum BPH GBI saat membuka Seminar Penginjil Gereja-Gereja Aliran Pentakosta Jakarta dan Sekitarnya Serta Penginjil Gereja Bethel Indonesia Seluruh Indonesia dan Luar Negeri di Graha Bethel, Jakarta (Rabu, 23/11)
.
Ia mengutip I Korintus 16:5-9 “ Aku akan datang kepadamu, sesudah aku melintasi Makedonia, sebab aku akan melintasi Makedonia. Dan di Korintus mungkin aku akan tinggal beberapa lamanya dengan kamu atau mungkin aku akan tinggal selama musim dingin, sehingga kamu dapat menolong aku untuk melanjutkan perjalananku. Sebab sekarang aku tidak mau melihat kamu hanya sepintas lalu saja. Aku harap dapat tinggal agak lama dengan kamu, jika diperkenankan Tuhan. Tetapi aku akan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta, sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang”.
Pdt. Jacob menekankan, seorang penginjil harus memberitakan Yesus yang besar dan luar biasa. Yesus harus diwartakan lebih besar dari pengalaman sang penginjil. Ia menilai, saat ini banyak “Theologia kebablasan” alias tidak Alkitabiah. “Bahkan, saat ini banyak orang bingung. Jangan sampai kita mengikuti Theologia seperti ini. Beritakan Injil yang bersumber pada Alkitab, maka engkau memberitakan hal yang besar,” ujarnya. Dengan nada informatif dan heran, Gembala GBI Mawar Sharon, Jakarta-Utara ini mengatakan, saat ini dunia gempar via internet dan SMS. Isinya ialah mohon dukungan doa agar Billy Graham bertobat. Alasannya, penginjil kondang dan kaliber dunia ini secara terang-terangan mengatakan Yesus bukan satu satunya jalan ke Surga. George Bush dan Obama pun ikut menyangkal Yesus.Pdt. Jacob menambahkan, kesempatan untuk memberitakan Injil dihadapkan kepada orang yang menerima dan orang yang menentang di belahan bumi ini. “Jika ada orang yang mengganggukkan kepala, belum tentu setuju dengan pemberitaan Injil. Jika anda beritakan Injil biasa-biasa saja, hasilnya juga biasa juga,”katanya. Sebuah kotbah harus dipersiapkan dengan baik dan jangan sampai seorang penginjil melakukannya tanpa persiapan dengan dalih, nanti toh Roh Kudus yang akan memimpin kotbahnya.
Kotbah yang Alkitabiah mempunyai ciri-ciri : Pertama, meninggikan Yesus Kristus seperti tertulis pada nats Ibrani 1:1-3 “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi”. Maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi”. Pdt. Jacob menegaskan bahwa seorang penginjil memberitakan Injil bukan untuk kepentingan materi seperti mobil, rumah dan lain-lain. Jika ia mendapatkannya, berarti itu adalah buah dari pelayanan hamba Tuhan tersebut.Kedua, Alkitabiah. Alkitab adalah buku yang sempurna serta menceritakan tentang karya Allah dan keselamatan oleh Yesus Kristus. Ia menghimbau agar penginjil tidak mengkotbahkan nats satu ayat. Misalnya, pelepasan sehingga ia dikenal sebagai “hamba Tuhan satu ayat”. Dengan nada prihatin, ia berkata bahwa jika itu dilakukan maka seorang pelayan Tuhan tidak pantas menjadi penginjil Pentakosta. Pdt. Jacob menegaskan, Alkitab bukan hanya sebuah kitab yang menceritakan soal akhir zaman saja, melainkan awal zaman juga ada.
Ketiga, kotbah harus mampu menjawab kebutuhan jemaat. Hamba Tuhan harus bisa berikan solusi atas persoalan yang dihadapi jemaat. Pemimpin pujian harus dilatih untuk melayani dengan efisien, bukan membuang-buang waktu. Ia mengingatkan, agar gereja tetap mempertahankan Api Pentakosta dan keteraturan saat ibadah, serta kegiatan-kegiatan sosial.Sebelumnya, Sekretaris BPAP (Badan Pelayanan Bersama Aliran Pentakosta) mengatakan dalam sambutan singkatnya bahwa ia menyambut baik acara ini. Ketua PGPI Jakarta Pdt. Immanuel Pakan mengatakan bahwa semua peserta bisa hadir ke Graha Bethel oleh karena anugerah-Nya. Ia berpesan agar semua penginjil melayani dengan rendah hati dan tulus. Pdt. Immanuel tetap semangat walau kondisi kesehatannya kurang mendukung saat ini, sebab ia terus bersandar kepada Kristus. Di bidang organisasi pelayanan yang dipimpinnya, Pdt. Immanuel bersyukur bahwa program kerja organisasi PGPI berjalan dengan baik, oleh karena Tuhan Yesus. “PGPI akan menggelar perayaan Natal di sejumlah wilayah kerjanya di DKI Jakarta pada bulan Desember 2011,” ujarnya.
Ibadah Pagi :
Melayani Tuhan Sungguh-Sungguh
Keberhasilan pelayanan seseorang harus dilandasi semangat kesunguhan hati untuk bekerja di ladang-Nya. Pdt.S.O. Simaremare mengatakan hal itu saat menyampaikan renungan Firman Tuhan saat ibadah pagi Rakernas Departemen PI di Graha Bethel di hari kedua (Rabu, 23/11), sebelum pembukaan Seminar.Selanjutnya, ia mengutip nats 2 Petrus 1:8 “Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita”. Ketua BPD Riau ini mengatakan bahwa setiap orang mempunyai tujuan agar pelayanan dan hidupnya berhasil. “Semua kita dipanggil Allah untuk menjadi pelayan-Nya, salah satunya terhimpun dalam wadah Penginijl GBI,” ujarnya.
Nats kedua yaitu II Petrus 1:5-6 “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan”. Pdt. Simaremare menghubungkan 2 nats diatas dan ia formulasikan bahwa untuk berhasil dalam menjalankan panggilan Tuhan, seseorang pelayan Tuhan harus melakukan beberapa hal yaitu Pertama, sungguh-sungguh berusaha. Jika seorang pelayan Tuhan tidak sungguh-sungguh dalam pelayanan, maka ia akan berjalan di tempat, walaupun pelayanannya tetap berlangsung. Dengan nada bertanya, ia berkata apakah anda sudah sungguh-sungguh dalam pelayanan ? dan anda tahan banting ?, jika anda menginjil apakah anda tidur di hotel di kota-kota atau tidur di hutan-hutan atau di desa ?.
Kedua, berbuat kebajikan (kebaikan). Salah satu penerapan hal ini ialah mempersilahkan seorang penginjil dari desa untuk melayani jika ia tiba di suatu kota. “Jangan anda mengatakan, maaf jadwal pelayanan kami sudah penuh karena sudah diatur 3 bulan sebelumnya,”ujarnya. Ia mengingatkan, berbuat baik kepada orang lain, sesama hamba Tuhan tidak terbatas pada gereja GBI saja, melainkan kepada jemaat dan pelayan Tuhan gereja non GBI juga.
Ketiga, seorang penginjil harus terus belajar. “Jangan merasa sudah pintar, tidak mau diajar orang lain,” ujarnya. Ia mengutip nats Amsal 9:9 “Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah”. Keempat, penguasaan diri. Ia harus harus sabar, rendah hati, jangan sombong karena jika seseorang sombong, ia akan mengalami kejatuhan dalam pelayanannya. Kelima, penginjil harus giat dan berhasil dalam pengenalan Yesus Kristus. Pdt. Simaremare mengkritisi soal pengajaran gereja yang “simpang-siur”. Keberhasilan seorang penginjil berhasil bukan diukur dengan luas dan besar bangunan gereja yang ia miliki. Melainkan, berhasil dalam hal pengenalan akan Tuhan. Ia menambahkan, sasaran penginjilan ialah menjangkau jiwa-jiwa. “Utamakan pelayanan di desa-desa, bukan berputar-putar di kota-kota saja,” ujarnya sembari mengakhiri kotbahnya.Banyak masyarakat yang hidup dalam kondisi kesusahan, keputusasaan dalam menghadapi kehidupan ini. Mereka perlu mendengar kabar suka cita saat ini. Selamat Mengikuti Seminar. [pram]


