Ditulis oleh prambudi Minggu, 27 November 2011 19:23
Ketika massa memaksa Simon dari Kirene untuk memikul salib Kristus pada masa sekitar 2000 tahun lalu, kondisi itu juga terjadi pada masa kini.Demikian kata Pdt. Jason Balompapueng Ketua departemen PI BPH GBI saat ibadah penutupan Rakernas di Graha Bethel, Jakarta (Kamis, 24/11).
“Penutupan-penutupan gereja di Indonesia adalah “perpaduan” antara Pemerintah dan Massa. Kita juga saat ini dipaksa untuk pikul salib oleh mereka,” tegas Pdt. Jason. Seolah kilas balik ke belakang, Ka Dep PI ini menggambarkan situasi terkini identik dengan Yesus yang melewati vila dolorosa pada masa lampau.Penganiayaan, pembunuhan terhadap hamba-hamba Tuhan di Indonesia merupakan “jalan” yang harus dilalui menuju Golgota, sama persis seperti Yesus Kristus.
Menurut Pdt. Jason, Simon mengalami 3 hal pada saat itu yaitu pertama, Simon melihat Yesus apa adanya dan ia mendapatkan hak istimewa memikul salib Kristus. Padahal, Yesus sebenarnya mampu bertindak dengan mengirimkan bala tentara Malaikat untuk membebaskan diri-Nya. Meskipun demikian, Ia tidak melakukannya. Semua orang pada waktu itu telah melihat kuasa-Nya yang besar dan luar biasa. Para murid-Nya tidak terlihat saat itu. Dalam kondisi terkini, banyak orang yang meninggalkan pelayanan (Filipi 3:10 b “ Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”).
Ia menilai saat ini banyak orang yang tidak mau melalui “jalan salib” ini yang berarti penderitaan. Hal itu bisa saja berupa kesulitan membayar uang sekolah anak. Padahal, kondisi demikian adalah jalan kehormatan juga. Murid-murid Yesus yang sebelumnya berjalan bersama Yesus sehari-hari, tidak mendapatkan kesempatan untuk memikul salib-Nya seperti Simon.Kedua, Simon adalah sosok satu-satunya yang dibutuhkan Yesus saat itu. Simon adalah orang yang sederhana. “Jangan sampai kita melayani dengan dada terangkat. Yesus pada waktu itu membutuhkan teman, saat semua orang meninggalkan Dia,” kata Pdt. Jason. Diakhir kotbahnya, Pdt. Jason mengingatkan peserta Rakernas agar memiliki sikap hidup dan hati seperti Kristus. “Jadilah sempurna seperti Kristus Yesus,” ujarnya.
Sebelumnya, rapat Pleno menghasilkan Keputusan Rakernas I yang berisi antara lain peningkatan kualitas penginjil dengan cara pelatihan-pelatihan. Pelayanan PI akan dipublikasikan di Majalah Penyuluh. Selanjutnya, berita tersebut akan juga diterbitkan di Buletin PI yang akan terbit per tiga bulan. Pembuatan KTA Penginjil. Perserta Rakernas I akan didaftarkan namanya ke World Indonesian Christian Fellowship. Lokasi Rakernas 2013 yaitu Palangkaraya, Kalimantan Tengah.Acara Rakernas I diakhiri dengan Perjamuan Kudus yang dipimpin oleh Pdt. Won Mally. Setelah makan malam, Rev. Tom Mahairas menyampaikan Firman Tuhan pada acara KKR. Keesokan harinya (Jumat, 25/11) para peserta melakukan wisata ke Taman Safari, Cisarua, Bogor. Selamat Melayani dan Sampai Bertemu di Rakernas 2013. [pram]



Comments
RSS feed for comments to this post