Gereja Bethel Indonesia

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

dr.ribkah_ciptaningKonferensi Dokter GBI Se-Indonesia pada hari kedua dimulai dengan ibadah pujian dan penyembahan dan sebagaioleh dr. Harry dari Palembang sedangkan untuk Renungannya oleh Pdt. Dr. Suko dari Jawa Timur dan doa berkat oleh Pdt. Dr. Josafat Mesach


Dilanjutkan setelah ibadah dengan pengenalan singkat TAGANA Rajawali oleh Christina Hutagaol, katanya TAGANA sangat memerlukan dokter karena ini juga yang diminta oleh Kementerian Sosial, dan dilanjutkan dengan kesaksian dari beberapa dokter yang hadir dalam Konferensi ini, diantaranya dokter dari Jawa Barat yang bersaksi pelayanan pertamanya di Tanah Papua. Acara kemudian rehat selama 30 menit yang kemudian dilanjutkan oleh dr. Ribkah Ciptaning yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi 9 DPR RI.

Didalam Sesi II, dr. Ribkah Ciptaning (Ketua Komisi 9 DPR RI). Menyampaikan bahwa dokter terikat dengan janji dokter yaitu memberikan pelayanan dengan tidak membedakan ras, suku, warna kulit dan golongan ekonominya. Maka dari itu tidak ada alasan untuk tidak menerima pasien miskin sekalipun, ia juga memberikan ide tentang kesetaraan didalam pelayanan di Rumah Sakit yang dituangkan di rapat komisi, tidak membedakan pasien miskin atau kaya, yaitu Rumah Sakit Tanpa Kelas. Maka dr. Ribkah bersama Megawati Soekarno (Ketua Umum Partai PDI P) meresmikan Rumah Sakit pertama Tanpa Kelas, yaitu Rumah Sakit yang tidak membedakan antar pasien yang berlokasi di Sukabumi – Jawa Barat.


Dr. Ribkah juga menegaskan kepada setiap peserta untuk selalu mengutamakan keselamatan dan kesehatan dari pada keuntungan semata, Rumah Sakit Negeri itu seharusnya tanpa ada kelas VIP karena Rumah Sakit Negeri itu dari APBN dan APB.


Kemudian dilanjutkan dengan Sesi IV yang di moderator oleh Pdt. Henoch Budiyanto dan sebagai pembicaranya Pdt. dr. Ruyandi Hutasoit dengan tema "Dampak Gereja terhadap Masyarakat di Bidang Kesehatan". dr. Ruyandi Hutasoit dalam session ini menegaskan bahwa sebagai anak-anak Allah apalagi seorang dokter harus sehat dan lanjut usia. Semua hal kesehatan tidak selengkap dibuku manapun kecuali Alkitab. Katanya lagi.


dr.ruyandi-hutasoitdr. Ruyandi juga menekankan penyakit dapat disebabkan oleh karena dosa, kutuk, cara hidup dan kurangnya pengetahuan, Serta pola makan yang tidak sehat. Katanya lagi Makanlah hanya substansi yang Tuhan ciptakan ungtuk dimakan. Hindari apa yang tidak dirancang untuk dimakan.


Katanya, sesuai dengan Firman Tuhan bahwa manusia adalah mahkluk Omnivora, tetapi banyak yang bertindak sebagai Carnivora. Daging merah mempunyai konsentarsi racun yang lebih tinggi disbanding hamper semua makanan. Antusias para peserta mengikuti setiap sesinya tidak terkecuali dengan sesi yang dibawakan oleh dr. Ruyandi sehingga jadwal makan siang diundur menjadi jam 14:30 WIB.


Kemudian pada pkl 15:00 WIB dilanjutkan dengan Sesi V yaitu "Membangun Sinergi Dokter GBI se-Indonesia dan Medical Care For Indonesia" dengan pembicara Pdt. dr. Josafat Mesach dan Pdt. dr. Deddy Goandys. Didalam pemaparannya dr. Yosi (panggilan akrab dr. Josafat Mesach) dan dilanjutkan untuk membentuk wadah bagi Dokter-dokter GBI. Dengan cukup a lot untuk pembentukan nama wadah dokter-dokter GBI, akhirnya Forum memutuskan wadah dari dokter-dokter GBI dengan nama "Persekutuan Dokter GBI" dan disahkan Persekutuan Dokter GBI (PD GBI) oleh Pdt. dr. Josafat Mesach (Ketua Dept. Misi dan Pelmas BPH GBI).


Setelah penetapan "Persekutuan Dokter GBI (PD GBI)" peserta istirahat sejenak. Dan pada pkl. 17:00 WIB acara dilanjutkan dengan Sesi "Tantangan dan Taggungjawab Gereja Dalam Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS dan NARKOBA" yang disampakan oleh Dr. Alphinus R. Kambodji (Ketua Komite AIDS PGI). Dalam pemaparannya dr. Kambodji menyampaikan fakta-fakta terkait dengan HIV/AIDS dan Pengguna Narkoba di Indonesia.


dr.alphinus-kambodjiKatanya pemicu HIV/AIDS di Indonesia adalah karena dari 240 Juta penduduk Indonesia, 3.1 Juta pria membeli seks (2-20% org dewasa) artinya penyebaran HIV/AIDS bukan hanya ditularkan wanita saja, tetapi banyak pria yang dapat menyebarkan penyakit itu, kalo pria membeli seks. Banyak kematian ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) justru dipicu oleh adanya stigma dan diskriminasi daripada oleh AIDSnya sendiri. Katanya lagi tujuan utama kita adalah menyelamatkan dan mempertahankan keHIDUPan, apapun resikonya.


Lalu bagaimana untuk mencegah HIV/AIDS? Gereja harus turut melakukan upaya-upaya terbaik dalam Pencegahan & Penanggulangan HIV/AIDS, katanya lagi. Katanya lagi, bahwa orang yang beresiko HIV/AIDS adalah 2S = Saya dan Saudara. Artinya setiap orang memiliki resiko terinfeksi HIV/AIDS.


Kemudian setelah sesi dr. Kambodji pesertan istirahat makan malam dan dilanjutkan dengan Fun Night dengan berbagai permainan dan Api Unggun, yang terlihat kekompak para dokter. Disela-sela Fun Night panitia mengadakan perlombaan yel-yel yang bagus. Kemudian Pdt. dr. Yosi merefleksisasikan panggilan Tuhan terhadap peserta dan mengajak para dokter untuk berkomitmen melayani sesuai dengan cara Tuhan. Acara ditutup dengan doa berkat oleh Pdt. Henoch Budiyanto.

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh