Gereja Bethel Indonesia

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 1
JelekBagus 

Dr. Rubin Adi Abraham (Ketua DPT - Dept. Teologia & Pendidikan)Bandung - DPT, Ruang lobby kampus ITHB (Institut Technology Harapan Bangsa - Bandung) mulai ramai sejak pukul 12 siang oleh para peserta yang akan mengikuti Konferensi Teologia & Pendidikan.


Peserta yang hadir lebih kurang sebanyak 150 orang dari seluruh Indonesia dan ada juga beberapa dari gereja lain.



dibuka dengan doa yang dilanjutkan renungan oleh Pdt. Josia Abdisaputera, M.Th dengan Nats bacaan 1 Petrus 2:6, dengan beberapa poin penting, arti Yesus Kristus sebagai Batu Penjuru. Yakni:






1. Batu penjuru adalah batu yang pertama kali diletakkan yang artinya bahwa Yesus yang pertama didalam pelayan kita, begitu pula dalam keselamatan. Jadi pendirian Sekolah harus Yesus yang menjadi utamanya.


Pdt. Josia Abdisaputera, M.Th2. Batu Penjuru adalah batu yang mengarahkan, artinya untuk dapat mengarahkan kepada Yesus Kristus seorang pemimpin harus punya integritas.


3. Batu Penjuru adalah Batu yang menopang seluruh bangunan. Artinya andalkan Yesus didalam pengelolaan baik gereja maupun sekolah.


Didalam renungan ini, Pdt. Josia Abdisaputera menegaskan Sekolah Teologia harus memiliki semangat misi karena tidak ada dibawah kolong langit yang dapat menyelamatkan kecuali di dalam Yesus. Kemudian ditutup dengan doa, selanjutnya disambung langsung Pleno 1.


Konferensi Teologia & Pendidikan yang kedua kali ini bertemakan "Mengembangkan Peran & Dampak Gereja Melalui Pendidikan" dengan tujuan mendorong gereja-gereja dilingkungan GBI untuk membangun Sekolah Umum dari PAUD s/d Perguruan Tinggi. Kata Dr. Rubin Adi Abraham (Ketua Departemen Teologia & Pendidikan).


Katanya lagi, di bidang Teologia, diharapkan para Teolog GBI dan para Gembala Sidang berdiskusi untuk menyelaraskan Doktrin dasar GBI dan implementasinya, serta dalam masalah-masalah pastoral yang mengemuka seperti Pernikahan, perceraian dan pernikahan lagi.


Lebih lanjut Dr. Rubin Adi mengatakan dengan terselenggaranya Konferensi Teologia dan Pendidikan (KTP) yang kedua ini dapat petunjuk dan bimbingan dalam mengajukan status terakreditasi ke Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi bagi Sekolah Tinggi Teologia (STT) dalam wadah Asosiasi Pendidikan Bethel (APB).


Mark Mc Clendon (CEO CBN)Kemudian dilanjutkan oleh Mark Mc Clendon dengan presentasinya 4/14 Windows (Potensi membangun Sekolah). Disesi ini Mc Clendon mengatakan bahwa gereja di Indonesia saat ini sudah mulai buram, jadi gereja harus berubah. Ada satu kalimat yang membuat shock Mark waktu mengikuti Konferensi 4/14 Windows yang pertama pada tahun 2009 di New York. 80% orang Kristen mengenal Kristus dibawah 18 tahun dan 20% orang Kristen mengenal Kristus diatas umur 18 tahun. Itu seperti anak panah menusuk saya, Kata Mark.


Pada usia 4 s/d 14 tahun, anak sangat mudah untuk menerima Injil, tetapi pada kenyataannya generasi sekarang hampir terhilang, karena gereja kurang fokus pada generasi, menurut Mark.


Satu tahun lalu Mark bertemu dengan ketua-ketua Sinode dari yang kecil sampai yang besar ceritanya sama anak-anak dan remaja sekunder, diabaikan diserahkan di sekolah minggu. Dan Mark waktu bertemu dengan Bimas Kristen lalu diajaknya mengikuti Konferensi Guru Sekolah Minggu se-Sumatera Utara, kemudian Mark berbincang-bincang dengan peserta yang hadir saat itu, dan keluhannya sama hampir semua gereja bahwa mereka terbeban dengan anak-anak, namun para gembala mereka yang kurang memperhatikannya. Seakan-akan gembala tidak melihat anak-anak.


Satu hal lagi bahwa orang tua juga kurang memperhatikan anak-anak mereka dan orang tua masa kini juga harus melek dengan teknologi, jadi seandainya anak memakai Smarthphones (gadget) orang tua langsung memfilter gadget tersebut. Namun lebih baik anak tidak diberikan Smartphones (gadget).


Diakhir Sesi Mark Mc Clendon mengatakan bicara gereja berarti membicarakan generasi, jadi gereja wajib untuk mengejar generasi, menangkap generasi dan memuridkan generasi.


Ishak S Wonohadidjojo (Direktur ACSI)Kemudian Sesi dibagi dua Pendidikan Umum dan Pendidikan Teologia. Dalam Sesi Pendidikan Umum Ishak S Wonohadidjojo, Ed.D, memaparkan tentang peluang dan tantangan dalam membangun sekolah dari segi regulasi dan market, serta strategi mengembangkan sekolah.


Kemudian dilanjutkan oleh Pdt. Ir. Bersih Tarigan yang memaparkan tentang TK Bethel Sukacita, TK Harapan Negeri dan PAUD Harapan Negeri. Pdt. Bersih Tarigan mengutarakan Motto dari Sekola-sekolah itu “Mudah, Murah dan Berdampak”, TK dan PAUD ini sudah dibangun di beberapa desa di wilayah Sumatera.


Pdt. Bersih Tarigan juga mengatakan bahwa masa depan gereja akan tergantung kepada pembentukan kompetensi dan iman anak, dan jika anak-anak dijangkau, dibimbing dan diperlengkapi dengan tepat, maka mereka akan menjadi suatu kekuatan yang sangat penting dan strategis.


Kemudian disambung oleh Ir. Samuel Tarigan (Rektor ITHB-Institut Teknologi Harapan Bangsa), ia mengutarakan tentang Peluang Pendidikan bagi Gereja. Menurut Rektor ITHB ini bahwa layaknya Pendidikan Kristen harus Membangun Sinergi dan kekuatan diantara lembaga-lembaga pendidikan yang sudah ada, serta menanamkan misi gereja dan menerapkan prinsip-prinsip pendidikan Kristen di lembaga Pendidikan Umum milik jemaat, dan juga harus meningkatkan mutu lembaga pendidikan serta dapat memobilitasi dukungan gereja dan jemaat dan menambah jumlah sekolah atau lembaga pendidikan Kristen.


Dr. Ir. Bob Foster, M.M (CEO Ganesha Operation)Sedangkan Pdt. Dr. Ir. Bob Foster (CEO Ganesha Operation) yang memamparkan bagaimana membangun, mengembangkan dan mengelola sekolah sehingga bisa eksis ditengah masyarakat. Katanya bahwa Pendidikan Umum harus tetap menanamkan nilai-nilai Kristen.


Sedangan dalam pendidikan Teologia, pembicaranya Pdt. Gernaida Pantan, Dr. Andreas Rusmanto dan Dr. Samuel Sijabat dan sebagai moderatornya Pdt. Dr. Frans Pantan yang memaparkan “Mengapa GBI Memerlukan Sekolah Teologia Yang Unggul?”.


Konferensi Teologia dan Pendidikan kedua hari pertama ditutup dengan diskusi kelompok.

Pembicara Pendidikan Teologia (dari kiri kekanan: Dr. Samuel Sijabat, Dr. Andreas Rusmanto, Pdt. Dr. Gernaida Pakpahan & Dr. Frans Pantan)

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh