Gereja Bethel Indonesia

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

E56-PI-Tom-MahairasKehidupan manusia sangat berharga di mata Tuhan. Sebab itu, Yesus membayar harga untuk melakukan tindakan penebusan dengan darah-Nya sendiri. Hal itu disampaikan hamba Tuhan dari Amerika Tom Maharias Presiden dan pendiri CitiVision yang bergerak di bidang layanan dengan semboyan Transforming Lives, Empowering Leaders, Impacting Urban Communities berbicara pada seminar II Seminar PI dan Penginjil di Graha Bethel, Jakarta (Rabu, 23/11).

 

Dasar paparan Tom di atas ialah Injil Matius 16:26 “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”. Selanjutnya, ia mengutip Injil Markus 16:15 “Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”.Kata “dunia” tersebut memilki 2 makna dalam bahasa Yunani yaitu kosmos (berkaitan dengan geografis atau luas suatu wilayah di bumi) dan eonas (waktu atau kekekalan). Tom juga menyinggung soal ciptaan baru (2 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”). Hal itu menurut penafsirannya berkaitan dengan pembaharuan karakter seutuhnya. Selain itu, Tuhan menciptakan karakter-karakter manusia yang baru dan terus berkelanjutan hingga kini sesuai dengan nats Galatia 6:15 “ Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya”.

 

Berkaitan dengan panggilan pelayanan seseorang penginjil di suatu wilayah, Tom menilai, hal itu sesuai dengan penentuan Tuhan Yesus sendiri, sehingga seseorang tidak bisa menentukan pilihannya. “Kesulitan faktor bahasa, keuangan dan lain-lain bukan merupakan hambatan dalam pemberitaan Injil. Dia pasti buka jalan. Kasih Allah sangat besar kepada dunia ini, sehingga Ia tidak mau menghukum dunia, melainkan Ia mengutus Yesus Kristus ke dunia ini,” ujarnya mantap.Tentang salah satu keberhasilan pelayanan para murid Kristus seperti tertulis pada Kisah Para Rasul, Tom berpandangan bahwa hal itu didasari oleh sistem pelayanan dalam tim yang diibaratkan seperti sebuah tim pelari estafet. Mereka berlari dan pada jarak dan kurun waktu tertentu menyerahkan kepada orang lain dalam tim. Tom lebih menekankan jumlah personel penginjilan yang ramping tetapi mempunyai komitmen yang tinggi dalam pelayanan. Selain itu, ia mengingatkan seorang penginjil tidak bisa bergerak sendirian. Ia perlu melibatkan kawan sekerja dalam Tuhan. Ia juga menampilkan pelayanan dan kesaksiannya dalam bentuk foto saat bertemu dengan beberapa pejabat tinggi di salah satu negara berkembang di kawasan benua Afrika. Selanjutnya pada Seminar III, Dr. Cornelius Ronowidjoyo memaparkan perkembangan situasi terkini di Indonesia. Ia menyoroti masalah politik, agama, budaya dan sosial masyarakat. [pram]

 

 

 

 

 

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh