Ditulis oleh prambudi Selasa, 22 November 2011 18:04
Penginjil GBI harus memiliki sebuah wadah ( “payung”) guna memperlancar pelayanan di lapangan. Jika memiliki hal tersebut, maka seorang penginjil akan lebih mudah melakukan pelayanan ke berbagai wilayah di dalam dan luar negeri. Termasuk jika seorang penginjil menemui masalah berkaitan dengan pelayanan. Hal itu merupakan inti sambutan singkat Pdt. Jason Balompapueng pada acara Rakernas Penginjil Departemen Pekabaran Injil BPH GBI yang bertemakan “Preach The Gospel With Any Cost” (Beritakan Injil Berapapun Harganya), di Graha bethel, Jakarta (Selasa, 22/11). Rakernas akan berakhir Jumat, 25/11.
Para peserta berjumlah sekitar 100 orang yang terlibat aktif pada pelayanan pemberitaan kabar baik dari 30 daerah di Indonesia, Timor Leste dan Eropa. Secara garis besar, tujuan acara penting ini ialah menyusun program kerja, membahas kendala-kendala di lapangan, menformulasikan terobosan-terobosan untuk menghadapi tantangan zaman. Selain itu, para peserta akan sharing dan fellowship tentang pelayanan masing-masing.Membuka Rakernas, Pdt. Pudjo Setoto Abednego memaparkan nats Roma 12:1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”.
Nats tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan erat dengan nats sebelumnya yaitu Roma 11:11 “Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu”.Pdt. Pudjo mengatakan, sebenarnya kita sebagai orang percaya bukan sebagai bangsa pilihan. Namun, karena Israel “tersandung” yaitu menolak Yesus Kristus maka perhatian Yesus mengarah kepada bangsa-bangsa lain. Dengan demikian, kita menjadi bangsa pilihan juga secara rohani (Roma 11:7 “Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya”).
Ketua BPH GBI ini menegaskan, Mesias telah dinubuatkan oleh para nabi-nabi PL, tetapi mereka menolak dan menyalibkan Yesus. Bahkan, orang Yahudi berani mengatakan untuk menanggung darah Yesus termasuk keturunan mereka. Hal ini tergenapi dengan kekejaman pasukan Hitler pada PD (Perang Dunia) II. Sekitar 6 juta bangsa Yahudi dimusnahkan secara massal (hollocaust). Meskipun perhatian Kristus tertuju kepada kita, ia berpesan agar kita tidak menjadi sombong, karena semua kehidupan ini bisa berjalan dengan baik oleh karena anugerah-Nya (Roma 11:20 “Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah !”).Sembari mengingatkan peserta Rakernas, Pdt. Pudjo menambahkan bahwa sebagai hamba Tuhan jangan asal bicara di mimbar, jangan asal “ngecap” saja. Firman Tuhan yang disampaikan dalam kotbah harus merupakan sesuatu yang telah diyakini, imani, dilakukan. Sehingga, Firman itu menjadi suatu kesaksian bagi banyak orang. “Jika kotbah disertai dengan kuasa Roh Kudus, maka kotbah menjadi berkuasa dan orang akan bertobat,” ujarnya.
Kerendahan hati juga ditekankan oleh Pdt.Pudjo sesuai dengan nats I Timotius I : 12-16. Rasul Paulus tidak menyatakan dirinya diangkat ke Surga secara langsung. Walaupun Ia mengalami hal itu, melainkan ia menggunakan istilah “seseorang”. Demikian juga halnya dengan Musa yang rendah hati (Keluaran 3:11). Padahal, ia seorang anak angkat Firaun dan memperoleh pendidikan yang memadai di istana.Tentang pemberitaan Injil, Pdt. Pudjo memberikan suatu contoh tentang pelayanan seorang gadis gagap di Korea Selatan. Ia melayani di sekolah minggu di sebuah gereja, bagian menenangkan anak-anak. Suatu hari ia mengunjungi sebuah rumah sakit khusus untuk penderita penyakit TBC. Tujuannya hanya menyerahkan sebuah Alkitab Perjanjian Baru, cetakan Yayasan Gideon. Beberapa kali gadis itu berkunjung ke sana. Penderita TBC itu menerima Alkitab tersebut dan membacanya beberapa kali. Suatu hari, ia berdoa dan minta kesembuhan dari Tuhan Yesus. Ajaib, beberapa detik kemudian, ia merasa bisa bernafas lega dan bisa lari di tempat. Akhirnya, ia mengalami kesembuhan total. Mantan penderita TBC tersebut kini menjadi hamba Tuhan terkenal di sana yaitu David Yonggi Cho.
Selain kerendahan hati, Pdt. Pudjo mengingatkan agar peserta memiliki semangat memberitakan Injil secara prima. Menurutnya, jangan sampai seseorang hamba Tuhan luntur, goyah, merosot semangatnya. “Cari, layani,berkorban, mengasihi jiwa-jiwa, bahkan harus rela bayar harga,” ujarnya. Ia mencontohkan, jemaat yang kendor semangatnya seperti Gereja di Laodikia (Wahyu 3:15-16). Sisa-sisa reruntuhannya saat ini tidak ada, hanya berupa semak belukar saja. Sebaliknya, Gereja Smirna (kini Ismir, Turki) masih ada dan kokoh berdiri. Gereja ini bahkan berada dalam proteksi Dinas Pariwisata Turki. Bahkan, Pdt. Pudjo sempat berkotbah di mimbar gereja tersebut. Di lantai mimbar, terukir nama-nama para gembala terdahulu yang mati syahid antara lain Polikarpus dan lain-lain.Soal semangat pelayanan, Ketua BPH ini mengambil contoh bagaimana Elia melawan 450 nabi-nabi Baal. Di Gunung Karmel, ia menumpahkan sekitar 1.200 liter air (12 buyung @ 100 liter air, menurut info penjaga gereja di Gunung Karmel) , padahal saat itu Israel di landa kekeringan. Hasilnya sungguh dahsyat karena Tuhan mengirimkan api untuk menyambar air dan korban di atas kayu milik Elia.Di akhir kotbahnya, Pdt. Pudjo memberikan motivasi kepada peserta yaitu mereka sebagai laskar Kristus untuk memenangkan jiwa. Pembukaan Rakernas dilakukan oleh Pdt. Pudjo dengan didampingi oleh Pdt. Jason. Sesuai dengan jadwal acara, besok (Rabu, 23/11) Gubernur DKI Jakarta akan hadir membuka acara ini. Kegiatan lain ialah KKR-KKR pada malam hari. Selamat Rakernas. [pram]


