Gereja Bethel Indonesia

Melihat Hari-Hari Baik

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

Bacaan: I Petrus 3:10-11

 

"Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu" (Ayat 10).

 

Setiap manusia memiliki harapan dan kerinduan tentang hari-hari yang indah dan hari-hari baik yang didambakan dalam kehidupan ini. Bencana malapetaka dan berbagai kejadian yang buruk merupakan kejadian-kejadian yang berusaha dihindari oleh manusia. Namun kenyataan hidup terkadang menunjukan sebuah kenyataan yang berbeda dari yang kita harapkan.

 

Secara umum pemahaman "hari-hari baik" bagi setiap orang adalah hari yang menyenangkan atau menggembirakan, yakni hari dimana tidak ada masalah melainkan hari yang mendatangkan kebaikan, ketenangan, kedamaian dan keuntungan dan rejeki.

 

Dari pemahaman ini banyak orang menilai hari baik itu ketika menyenangkan keinginannya sebagai manusia. Tetapi sebaliknya apabila hari itu tidak menyenangkan keinginannya, maka ia menilai hari itu sebagai hari sial.

 

Secara duniawi, hari-hari baik ini ditentukan oleh usaha manusia dengan didukungnya oleh pemahanan dan keyakinan masing-masing. Misalnya angka 2 (dua) atau angka 8 (delapan) diyakini sebagai angka yang mendatangkan keuntungan besar, maka manusia berlomba-lomba mengerjakan pekerjaan atau usaha pada saat itu.

 

Bagaimana kita sebagai orang yang percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus? Apakah hari-hari baik kita ditentukan oleh pemahaman diatas? Jawabannya TIDAK. Hari-hari baik kita tidak ditentukan oleh factor tersebut melainkan factor diri kita sendiri yang telah diselamatkan oleh Allah dan dipimpin oleh Roh Kudus setiap hari.

 

 

Taburlah kebaikan dan engkau akan menuai kebaikan

 

Alkitab menunjukkan kepada kita tentang tiga hal yang perlu kita miliki agar dapat melihat hari-hari baik terjadi dalam kehidupan kita, yakni:

 
 Renungkanlah

1. Apa hubungan hari-hari baik dengan menjaga perkataan?

2. Seperti apa orang yang menjauhi kejahatan?

3. Bagaimana caranya kita mengusahakan perdamaian?

 

 

1. Menjaga perkataan-perkataan kita (ayat 10). Istilah "Menjaga terhadap yang jahat" dan "menjaga bibir terhadap ucapan yang menipu" mengarah kepada bagaimana mengfungsikan mulut kita dengan ucapan-ucapan yang jujur, memberkati orang lain dan kata-kata yang membangun serta kata-kata positif lainnya.

 

Orang yang dapat mengatur kata-katanya dengan baik dapat melihat hari-hari baik dalam hidupnya, karena ia akan disenangi oleh sesamanya dan kata-katanya akan mempengaruhi pola hidupnya serta banyak kesempatan baik menanti dia.

 

2. Menjaga yang jahat dan melakukan yang baik (Ayat 11a). Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa tidak ada sebuah kejahatan yang sempurna. Apabila seseorang hidup secara salah, maka kesalahan itu akan membawa dia kepada hari-hari yang buruk dalam kehidupannya.

 

Orang-orang yang melakukan hal-hal yang baik akan melihat suatu hari dimana ia akan menuai kebaikan. Hari-hari baik akan menjadi milik dari orang-orang yang belajar melakukan berbagai hal yang baik dan benar dalam kehidupannya.

 

3. Mencari dan mengusahakan perdamaian (Ayat 11b). Orang-orang yang berusaha untuk hidup dalam perdamaian, menjadi juru damai dan menghadirkan damai dalam kehidupannya, pasti akan melihat hari-hari yang baik.

 

Apa yang kita cari dan usahan, itulah yang akan kita capai. Dengan mencari dan mengusahakan perdamaian, maka kedamaian dan hari-hari baik akan kita dapatkan.

 

Doa

Tuhan Yesus, saya ingin supaya hari-hari baik menjadi milik saya karena itu tuntunlah saya kepada kebaikan-Mu ya Tuhan. Amin

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh