Gereja Bethel Indonesia

Dihakimi Menurut Perbuatan

Perhatian: buka pada jendela baru. PDFCetakE-mail

Penilaian Pengguna: / 2
JelekBagus 

Bacaan: Roma 2:5-7

 

"Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya" (Ayat 26)

 

Apakah kita menganggap hanya orang Kristen saja yang mempunyai kesalehan? Menganggap bahwa dalam hidupan orang-orang non-Kristen tidak ada orang-orang yang emmiliki kualitas yang luar biasa disbanding dengan manusia kebanyakan adalah anggapan yang tidak jujur. Tentu pengertian saleh disini tidak boleh diukur dengan kesalehan standar sempurna bagi umat Perjanjian Baru.

 

Bila kita mengamati kesalehan Ayub, maka kita menemukan kesalehan non-Yahudi dan juga non-Kristen yang luar biasa. Ayub hidup sebelum zaman Abraham dan ia bukan termasuk orang Yahudi umat pilihan Allah (Ayub 1:1). Tentu masih banyak lagi orang-orang yang memiliki kesalehan seperti mereka. Demikian juga Yitro, mertua Musa. Ia orang Midian yang mengenal Allah Israel, ia memuji Tuhan dan mempersembahkan korban bagi Allah Israel (Keluaran 18:12).

 

Mengapa ada orang non-Yahudi dan non-Kristen bisa mengenal Allah, bahkan disebut imam? Sebab Tuhan yang menulis TauratNya di dalam hati manusia (Roma 2:15). Mereka bisa menjadi orang-orang yang berprestasi moral yang baik menurut kitab yang mereka miliki, yang akan menjadi tolok ukur penghakiman bagi merea (Wahyu 20:12-13).

 

Penghakiman yang digambarkan disini diselenggarakan tidak berdasarkan iman kepada Juruselamat, tetapi berdasarkan perbuatan (Roma 2:6). Tentu ini berlaku bagi mereka yang tidak pernah mendengar Injil. Dalam hal ini, akan ditemukan orang-orang yang memiliki kasih kepada sesamanya dalam standar masing-masing sesuai dengan hukum yang tertulis dalam "kitab-kitab itu".

 

Allah mengasihi orang-orang yang percaya dan memberi anugerah untuk memerintah bersama-sama dengan Dia di langit dan bumi yang baru

 

Siapa yang berani mengatakan bahwa sesaleh Ayub masuk neraka? Tuhan itu Maha Adil, Ia memberi peluang bagi orang-orang yang tidak pernah mendengar Injil, apakah mereka memperoleh perkenanNya atau tidak. Jadi penghakiman Allah tidak hanya untuk menunjukkan kesalahan atau menjatuhkan hukuman, Ia bukan Allah yang kejam, Ia akan menunjukkan keadilanNya bagi orang-orang yang dipujaNya sebagai tidak bercela, seperti Ayub (Ayub 1:8).

 
Renungkanlah

1. Mengapa kita tidak mengalami penghakiman? Jelaskan!

2. Bagaimana cara memelihara keselamatan yang telah diberikan Allah dalam hidup kita?

3. Tuliskan sikap orang yang telah diselamatkan oleh Allah!

 

 

Berarti kita harus menerima bahwa nanti ada banyak orang yang tidak pernah menjadi bangsa Israel, tidak pernah menjadi Kristen dan tidak pernah dicap sebagai orang saleh menurut kacamata orang Yahudi dan orang Kristen, tetapi memasuki kehidupan yang akan datang. Merekalah orang-orang yang melalui penghakiman lalu diperkenankan masuk sebagai masyarakat dalam dunia yang akan datang di langit dan bumi yang baru. Tidak mungkin Tuhan menulis TauratNya di dalam hati manusia hanya sekedar untuk pajangan dan tidak berdampak bagi manusia.

 

Orang percaya yang bertumbuh dalam Tuhan tidak akan mengalami penghakiman atau pengadilan, tetapi anugerah memerintah bersama Kristus di langit baru dan bumi yang baru. Kita tidak perlu menyombongkan diri sebagai orang percaya yang diberi anugerah untuk memerintah bersama Kristus Yesus serta pribadi yang telah diselamatkan oleh Allah. Sebagai orang percaya harus bertanggung jawab dan menggunakan anugerah tersebut untuk hormat kemuliaan Allah. Mari kita serius bergumul meresponi dan mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar.

 

Doa

Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk mengasihi-Mu dan biarlah hidupku hanya untuk menyenangkan-Mu. Berilah aku kekuatan untuk memeliahara keselamatan yang telah Engkau berikan dalam hidupku. Amin

Add comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.


Security code
Refresh