Meningkatnya Skala Marginalisasi Terhadap Gereja
Ditulis oleh prambudi Sabtu, 04 Februari 2012 00:00
Meningkatnya eskalasi marginalisasi terhadap kekristenan di Indonesia, khususnya jemaat di Papua dan Jemaat GKI Yasmin, Bogor mendorong KMUKI (Komite Musyawarah Umat Kristiani Indonesia) menggelar diskusi dengan tema "Membangun Soliditas Kebangsaan Di tengah Eskalasi Epidemi", sebagai bentuk kepedulian terhadap semakin rapuhnya rasa kebangsaan di tanah air. Hal itu disampaikan oleh Ketua Panitia Pelaksana KMUKI Pdt. Suyapto Tandyawasesa, M.Th di Graha Bethel, Jakarta (Jumat, 3/2).
Sementara itu, Ketua Umum KMUKI May.Jend. TNI AD (Purn) Pranowo mengatakan, diskusi ini sebagai bentuk dari aktualisasi iman, kesaksian dan pelayanan kepada Yesus Kristus. Sekaligus merupakan sikap pro aktif terhadap memburuknya kehidupan Kekristenan sebagai akibat dari eskalasi marginalisasi (peminggiran, Red) yang diberi ruang dan dibiarkan oleh penyelenggara negara.
Pranowo mengingatkan bahwa negara ini bukan milik golongan atau agama tertentu saja. "Kita (orang Kristen, Red) ikut serta mendirikan negara ini dan bukan warga negara kelas dua," ujarnya. Dibidang supremasi hukum, mantan Mayor Jenderal ini menilai bahwa penegakan (supremasi, Red) hukum telah lumpuh. Sebagai bukti, ia memaparkan tentang kasus GKI Yasmin, Bogor. Keputusan Mahkamah Agung tidak ditaati oleh pejabat negara setempat dan warga. Bahkan, menurutnya penyelenggara negara malahan ambivalen dan kompromi dengan kelompok separatis ideologis dan gerakan massa yang menentang Bhineka Tunggal Ika dan melawan Keputusan MA.
Sebelumnya, Pdt. Ferry Haurissa menyampaikan renungan Firman Tuhan dari nats Yosua 2::24 Kata mereka kepada Yosua: "TUHAN telah menyerahkan seluruh negeri ini ke dalam tangan kita, bahkan seluruh penduduk negeri itu gemetar menghadapi kita." Ia mengambil tema "Tahun 2012 adalah Tahun Kemenangan" dan menjabarkan beberapa kebenaran dari nats tersebut. Kebenaran pertama, rencana Tuhan tidak pernah gagal. Kondisi tembok Jerikho yang memiliki ketebalan 6 meter, bisa Tuhan runtuhkan dalam sekejab. Demikian juga rencana Tuhan bagi Indonesia tidak akan pernah gagal. Nats Ayub 42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal".
Kedua, Tuhan serahkan Jerikho kepada bangsa Israel dengan cara-Nya yaitu Tuhan perintahkan bangsa itu untuk berkeliling tembok selama 6 hari dan pada hari ke 7, mereka disuruh Tuhan meniup sangkakala. Tuhan memerintahkan kepada kita semua untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Kondisi demikian tetap harus diterapkan orang percaya walaupun banyak gereja yang dibakar, perizinan yang dipersulit, pembunuhan hamba Tuhan dan lain-lain. Dengan nada prihatin, Pdt. Ferry menambahkan bahwa saat ini banyak hamba Tuhan yang menyangsikan kebenaran Firman Tuhan. Padahal, Firman Tuhan sebagai penuntun hidup orang percaya. Mazmur 119:105 "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku".
Ketiga, bangsa Israel dan Yosua mengimani bahwa kuasa Allah bisa merobohkan tembok Jerikho, sebab kuasa-Nya masih bekerja secara aktif. Roma 8:28 "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah". Kempat, kesatuan, kebersamaan mendatangkan mujizat. Yohanes 17:21 "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku". Kelima, bangsa Israel bersorak-sorai dan tembok Jerikho runtuh. Pdt. Ferry menasehatkan agar semua peserta tetap bersuka-cita dalam menghadapi segala keadaan.
Usai renungan Firman Tuhan, Ketua Umum PGI Pdt. A.A. Yewanggoe memaparkan bahwa gereja telah termarginalisasi selama 4 abad. Meskipun demikian, gereja tetap menyatukan langkah untuk bersatu. Dalam hubungannya dengan pemerintah saat itu (Romawi), rasul Paulus menekankan ketaatan kepada mereka (Roma 13:1 "Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya". Kondisi riilnya, pemerintah Romawi walau kafir, mereka pembawa keadilan meskipun tidak sesuai dengan Firman Tuhan.
Ketika Kaisar Konstantin Agung menjadi pemeluk Kristen, terjadi suatu perubahan yaitu Kristen menjadi agama negara. Akibatnya, gereja menjadi unsur yang ingin dilayani dan mulai abad ke-4 (IV) sampai abad ke-16 terjadi perebutan kekuasaan antara Kaisar Romawi dengan Paus. Masa tersebut dikenal dengan "Abad Kegelapan". Hasilnya, gereja terbelit dalam pusaran kekuasaan dunia dan bukan gereja yang melayani dunia dengan rendah hati.
Ketum PGI ini menjelaskan bahwa pada abad ke-16, Marthin Luther memakai kekuatan (senjata, Red) untuk menumpas pemberontakan petani, karena dinilai mengganggu keamanan gereja. Padahal, petani memperjuangkan keadilan. Pdt. Yewanggoe menyimpulkan saat itu terjadi reformasi di bidang Theologia saja, sementara di bidang sosial tidak. Menunjuk perkembangan GKI Yasmin, Bogor Ketum PGI menyatakan dengan tegas bahwa masalah ini bukan masalah pemeluk Kristiani saja, melainkan sudah menjadi persoalan bangsa.
Hakim Agung Prof. Dr. Gayus Lumbuun hadir dan memaparkan secara ringkas kinerja BPUPKI di era penjajahan Jepang, beberapa saat sebelum Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hubungan agama dan negara, menurut pengamatannya adalah negara menguasai agama. Meskipun demikian, ada juga negara dibawah kekuasaan agama. Tentang Konstitusi (UUD 1945, Red) , ia berpendapat bahwa hal itu tidak dapat ditafsirkan.
"Kemelut" GKI Yasmin Bogor sampai saat ini masih berkelanjutan. Jemaat masih beribadah di trotoar jalan. Bahkan mereka sering "diuber-uber" (dikejar-kejar) massa dan diusir secara paksa. Putusan MA (Mahkamah Agung) telah memutuskan bahwa IMB GKI Yasmin sah. Bahkan, keputusan itu telah disahkan juga oeh Ombudsman. Namun kata Pdt. Ruyandi hal itu belum bisa diterima oleh Pemda setempat.
Pdt. Ruyandi Tanujaya (Ketua Sinode GKI) mengutip kisah nyata pada masa Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Dwight Eisenhower. Kala itu masyarakat AS terbelah menjadi dua yaitu setuju untuk membedakan ras kulit hitam dan kulit putih. Pihak lainnya menentang hal itu. Ketika ada 7 orang anak kulit hitam ditolak untuk masuk ke sekolah anak-anak kulit putih, Gubernur negara bagian tersebut mendukung pelarangan ini. Presiden akhirnya mengambil sikap dengan mengerahkan 1.500 pasukan Garda Nasional untuk mengawal 7 anak kulit hitam tersebut saat masuk ke sekolah. Pada prinsipnya, GKI Yasmin menolak tawaran Pemerintah untuk merelokasi gereja.
Pembicara selanjutnya ialah Mayor Jenderal TNI AD (Purn) Monang Siburian. Ia memberikan paparan singkatnya bahwa dunia ini sedang dikuasai oleh kuasa kegelapan, seperti tertulis pada Yesaya 12:14. Monang berpandangan bahwa masalah yang terjadi di Indonesia bisa diselesaikan, jika semua komponen bangsa saling melupakan masa lalu. Salah satu caranya ilah melalui kegerakan doa. Ia optimis bahwa suatu hari Papua akan menjadi berkat bagi bangsa Indonesia dan dunia.
Ketua PGLII Pdt. Dr. Nus Reimas mengatakan untuk mengatasi kemelut di tanah air, orang percaya harus berdiam diri di hadapan Tuhan. Ia beralasan, bahwa jika Tuhan turun tangan maka semuanya akan indah pada waktunya. Para peserta terdiri dari berbagai denominasi gereja, PGLII, PGPI, Sinode Gereja Ortodoks, lembaga pelayanan dan Assisten Menko Polkam Brig.Jend. TNI AD Harsanto Adi. Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan menggelar temu lintas agama. [Pram]


