Mujizat Ada, Jika Kita Melupakan Masa Lalu
Ditulis oleh Pdt. Dr. Jacob Nahuway, MA Minggu, 01 Januari 2012 00:00
"...Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata: Bukan sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali" (Matius 18:21-22)
Ada banyak hal yang membuat kita mengeluh, sedih, pilu, putus asa dan berdukacita. Hal ini terjadi karena berbagai alasan dan bermacam bentuk, ada diantara kita yang lahir dalam keluarga yang miskin dan di desa yang terpencil.
Kehidupan masa kecil diwarnai dengan kerja keras, hidup dalam berbagai kekurangan. Bentuk lain dari dukacita adalah kehadiran kita yang tidak didambakan keluarga, kita lalu dibesarkan dengan perlakuan kasar, tidak adil, tidak dikasihi, tertolak dan dengan kata-kata kasar, kotor berisikan sumpah serapah, bahkan berisikan kutukan. Kita lalu bertumbuh dengan perasaan dukacita dan kebencian.
Atau keluarga kita utuh, tetapi papa menyukai minuman keras dan mama tidak memiliki tanggumg jawab seorang ibu. Kita bertumbuh dalam keluarga yang kehilangan kasih sayang dan damai sejahtera, keadaan ini menciptakan noda hitam dalam hafi dan batin kita.
Jika didaftarkan satu-satu, apa saja yang menciptakan keadaan dukacita dalam batin seseorang, maka daftar ini akan menjadi panjang. Namun bukan itu yang menjadi perhatian kita, tetapi bagaimana caranya kita dapat melupakan dukacita masa lalu apapun bentuknya, itulah yang lebih utama. Caranya adalah:
Dukacita masa lalu dapat menghambat berkat-berkat Tuhan, karena itu kita harus bersedia untuk melupakannya
1. Jangan bertanya mengapa, tetapi bertanyalah apa! Pusatkan perhatian, waktu, kekuatan, biaya dan apa saja pada bagaimana menyelesaikan suatu masalah dan bukan mempermasalahkan.
1. Dukacita masa lalu seperti apakah yang belum dapat saudara lupakan sampai sekarang ini?
2. Sudahkah saudara memberikan pengampunan kepada orang-orang atau dirimu sendiri berkaitan dengan dukacita masa lalu yang saudara alami?
3. Bagaimana caranya untuk bebas dari dukacita masa lalu?
Ciri orang-orang yang berhasil adalah mereka menyelesaikan masalah dan bukan mempermasalahkannya. Apa yang anda dapat lakukan sekarang adalah jauh lebih penting daripada merenungkan dan memahami hal-hal buruk yang terjadi dimasa lalu.
2. Janganlah bertanya mengapa, tetapi bertanyalah bagaimana! Dengan bertanya apakah yang dapat kita perbuat untuk menyelesaikan dukacita masa lalu, maka kitq dapat dengan gampang mengampuni orang yang bersalah kepada kita (Matius 6:12).
Jika kita tidak bersedia mengampuni orang lain, maka kita juga tidak akan mendapatkan pengampunan dari Tuhan, dan jika pengampunan dari Tuhan tidak kita dapatkan, maka mujizat tidak akan kita alami.
Bersedia mengampuni orang lain juga membuka mata rohani kita untuk melihat keberadaan diri sendiri. Simak apa yang diungkapkan raja Daud dalam Mazmur 51:2-7. Pengampunan dari Tuhan membuat doa kitq dijawab dan didengar (Mazmur 51:19), hati kitq ditahirkan (Mazmur 51:9), roh kita diperbaharui (Mazmur 51:12), kita dijaga dan dipagari tembok-tembok Yerusalem (Mazmur 51:20). Kita harus berdoa meminta Tuhan memberikan kita hati yang rela mengampuni orang lain yang melukai kita dan mampu melupakan luka masa lalu kita.
Pengampunan afalah pilihan antara kehidupan dan kematian. Dengan kata lain, jika kitq ingin memiliki kehidupan sekarang dan nanti didalam kekelan, maka kita harus tahu kapan saja dan dimana saja serta dalam keadaan apa saja mwmberikan pengampunan pada mereka yqng memerlukannya.
Jika kita mengampuni, maka kita memiliki hati untuk memaafkan diri sendiri. Berapa banyak orang yang membenci dirinya sendiri karena berbagai kegagalan yang mereka alami dalam nikah, karir, kesehatan dan hal-hal lainnya.
Milikilah sikap hati memaafkan diri sendiri dan anda akan mengalami angin anugerah Tuhan berhembus ke dalam dan melalui jiwa anda, sehingga anda mampu melupakan dukacitamu!
Doa
Tuhan Yesus, sebagaimana Engkau sudah mengampuni aku, aku pun mau memberikan pengampunan kepada orang-orang (sebutkan nama mereka) yang pernah menyakitiku. Sanggupkan aku untuk melakukannya. Amin.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|


