Bacaan : I Timotius 4:10-16
Dunia bisnis akhir-akhir ini sedang gencar memberikan pelatihan-pelatihan guna meningkatkan pelayanan kepada konsumen. Semboyan-semboyan yang harus dihayati dan dilaksanakan karyawan seperti "Melayani dengan hati", "Senyum kami untuk anda", "Memberikan layanan terbaik" dan lain sebagainya.
Bagaimana dengan kita orang percaya ?. Hidup kita harus berdampak bagi orang lain atau orang disekitar kita. Caranya, sederhana saja seperti tertulis pada nats diatas. Langkah pertama (ayat 10), berjerih lelah dan berjuang, artinya bekerja keras, tanpa pamrih dan melayani secara maksimum.
Kedua, tidak menilai apakah kinerja kita mendapatkan pujian atau nilai tertentu dari orang lain atau atasan. Sebaliknya, kita mengharapkan penilaian dari Tuhan Yesus secara langsung (ayat 10b). Dengan demikian, hidup kita menjadi teladan bagi banyak orang. Rasul Paulus mengingatkan agar setiap orang percaya menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih dan seterusnya (ayat 12).Maknanya, salah satunya ialah orang percaya harus berhati-hati saat berbicara seperti tertulis dalam
Yakobus 1:26 "Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya".
Ketiga, tekun membaca Kitab Suci (ayat 13). Orang percaya yang tekun membaca Firman Tuhan, pasti berdampak positif kepada kinerja, prestasi, hubungan dengan orang lain, bahkan kepada dirinya sendiri. Hal itu beralasan, sebab Roh Kudus memimpin kehidupannya berlandaskan kehendak Tuhan dan bukan kepada kepentingan diri sendiri (egosentris).
Keempat, menjadi manajer bagi diri sendiri (ayat 16). Artinya, bagaimana orang percaya bisa mengatur dirinya sendiri dan bekerja atau melayani secara benar tanpa menunggu perintah dari atasan. Apa saja yang dikerjakannya, sesuai dengan kehendak Tuhan seperti tertulis dalam I Korintus 9:27 "Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. Jangan sampai kita bekerja keras dalam pekerjaan atau pelayanan, namun akhirnya Yesus menolak sebab kita bekerja dengan motivasi pribadi.




















